JAKARTA – Paus Fransiskus di sepanjang masa kepemimpinannya telah memberi perhatian yang dalam kepada para lansia. Dalam banyak pesan dan kebijakan pastoralnya, Paus mengajak umat Katolik untuk melihat lansia bukan sebagai beban, melainkan sebagai sumber kebijaksanaan, kekuatan, dan berkat bagi generasi yang lebih muda. Hal ini ditunjukkannya dengan dicanangkannya Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia sejak 2021.
Juga, dalam ensiklik Fratelli Tutti Paus mengingatkan bahwa “objek yang dibuang bukan hanya makanan atau barang yang berlebihan, tetapi seringkali juga manusia sendiri.” Inilah kritiknya tentang lansia yang terkadang dianggap seperti “sampah” di masyarakat. Orang lanjut usia justru dinilai Paus sebagai saksi harapan dan penjaga memori iman, yang bisa menjadi teladan bagi generasi muda dalam menjalani hidup penuh pengabdian dan ketekunan.
Perhatian terhadap lansia ini juga mencuat dalam SAGKI 2025 dengan menghadirkan pegiat lansia, Prof. Dr. Tri Budi Wahyuni Raharjo, dosen gerontologi di Universitas Indonesia dan Universitas Respati Indonesia. Prof. Tri Budi mendirikan bersama-sama teman-temannya sebuah pusat kajian kelanjut-usiaan di Universitas Indonesia dan dari sana melebarkan kerja sama dengan beberapa universitas internasional untuk riset dan pendidikan dokter. Gerontologi adalah ilmu yang bersifat multidisiplin karena memiliki aspek di bidang kesehatan, sosial, teknologi dan budaya bahkan sekarang juga merambah ke bidang hukum.
Sekolah lansia: SMART (sehat, mandiri, aktif, religius dan tangguh)
Pemberdayaan para lansia mewujudnyatakan kebaikan Allah karena Ia senantiasa memperhatikan setiap orang di setiap tahap kehidupannya termasuk di masa tuanya. Pemberdayaan orang lanjut usia membuat mereka hidup sejahtera, mandiri, dan bermartabat karena mereka merasa dimanusiakan dan diberdayakan. Namun untuk mencapai hal itu dibutuhkan dukungan yang kuat dari keluarga, bahkan lingkungan tempat tinggal mereka.
Demikian juga, perlu mengubah cara pandang yang melihat orang lanjut usia sebagai beban dengan memberikan kesempatan bagi mereka untuk tetap berkarya di masa tua mereka.
Dalam sharingnya ibu Tri Budi menjelaskan bahwa di Keuskupan Bogor telah didirikan sekolah lansia yang merupakan sekolah informal. “Yang datang ke situ adalah para pralansia sampai lansia. Di sana mereka bisa beraktivitas dalam berbagai hal termasuk spiritual kemudian emosional, fisik kemudian juga vokasional sehingga mereka tetap merasa berdaya dan diberdayakan. Di sekolah itu semua mereka mendapatkan sesuatu untuk menjadi lansia yang SMART (sehat, mandiri, aktif, religius, tangguh),” jelasnya.
Sekolah lansia yang pada awalnya digagas oleh PUKAT (Profesional dan Usahawan Katolik) Keuskupan Bogor dan kini bernama WARSEN SSMART (Warga Senior Sehat, Sukacita, Mandiri, Aktif, Religius, dan Tangguh) mencakup semua wilayah yang ada di paroki, bahkan dari luar paroki. Pada awalnya salah satu upaya pemberdayaan lansia ini dilakukan oleh Seksi Bina Iman Lansia Paroki Santo Fransiskus Asisi Sukasari Bogor dan kini sudah mulai menyebar ke dekanat-dekanat di Keuskupan Bogor.
Selain menjadi pembinaan iman bagi lansia, kegiatan yang sudah berjalan sekitar setengah tahun ini bertujuan untuk mempromosikan kesehatan lansia dalam aspek-aspek fisik, mental, emosional, sosial dan finansial. Beberapa kegiatan yang mempromosikan kesehatan selalu disertakan dalam sekolah lansia, antara lain: pengecekan kesehatan, senam lansia, yoga, dan lain-lain.
“Orang lanjut usia perlu beraktivitas dalam aneka aspek. Dalam aspek spiritual dimaksudkan lansia dapat mensyukuri kehidupan. Kemudian dalam aspek emosional itu bagaimana lansia itu tetap mampu bahagia secara emosional; aspek intelektual itu bagaimana agar lansia itu tetap bisa mengasah pikirannya agar dalam kondisi apapun tetap belajar apa saja. Sedangkan dalam aspek fisik diharapkan agar lansia dapat memperhatikan kegiatan fisik dan kesehatannya. Maka, lansia harus melakukan pemeriksaan kesehatan yang rutin. Sedangkan aspek vokasional itu dimaksudkan agar lansia itu tetap mempunyai arti bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain,” ungkap Prof. Tri Budi.
Di dalam sekolah lansia tersebut para lansia yang sudah menyelesaikan satu standar dan interaksi diwisuda layaknya mereka yang lulus sekolah. Mereka yang sudah lulus di standar satu kemudian akan melanjutkan ke standar dua dan tiga. “Memang di sekolah ini tidak ada kriteria kelulusan. Lansia yang sudah mengikuti standar satu dan interaksi dianggap lulus dan terikat untuk mengikuti standar dua dan tiga. Para lasia yang sudah lulus diharapkan menjadi penggerak untuk keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Yang menarik, sekolah informal ini juga mengikutsertakan dan memberdayakan orang muda, orang muda paroki turut dilibatkan untuk membantu kegiatan ini. Hal ini dimaksudkan untuk mengajak orang muda memahami persoalan-persoalan lansia, mengetahui cara menghadapi lansia, menumbuhkan rasa hormat dan penghargaan pada orang lanjut usia.
Selain kegiatan Bina Iman, sekolah lansia di paroki Sukasari mengadakan kegiatan latihan angklung bagi WARSEN SSMART, kunjungan kasih kepada lansia, bekerjasama dengan Serikat Sosial Vinsensius (SSV), dan wisata rohani pada bulan Mei setiap tahun.
Masa tua sebagai puncak peziarahan dan pengudusan hidup
Dalam amanatnya dalam Seruan Apostolik Christifideles Laici, Paus Santo Yohanes Paulus II menyampaikan kepada orang lanjut usia bahwa “masa pensiun memberikan kesempatan baru kepada orang-orang lanjut usia untuk merasul.” Di situ tersirat bahwa peranan orang lanjut usia dalam Gereja dan masyarakat tidak berhenti pada usia tertentu.
Hal itu ditegaskan kembali oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti bahwa kita bisa belajar sesuatu dari semua orang, termasuk para lanjut usia karena tak seorang pun tidak berguna, tak seorang pun tidak diperlukan. (bdk. FT, 215)
Maka sebagai orang beriman, perlulah memiliki pandangan bahwa usia tua bukan berarti usia pensiun, berhenti melakukan karya. Istilah“pensiun” hanya digunakan untuk karya-karya praktis duniawi, tetapi bukan untuk proses iman. Proses iman berlangsung seumur hidup karena keseluruhan hidup merupakan situasi peziarahan dan pengudusan diri yang berlangsung terus hingga tutup usia. Usia tua justru perlu dipandang sebagai puncak peziarahan dan pengudusan hidup.

Freelance, Contributor for Dokpen KWI


