Bagi sebagian orang muda, gereja adalah tempat peribadatan semata. Namun bagi Monika Bataona, perempuan asal Larantuka, Nusa Tenggara Timur, gereja adalah rumah pertama yang menumbuhkan semangat pelayanan dan cinta pada sesama. Sejak usia tujuh tahun, ia sudah terbiasa pergi ke gereja seorang diri. Di usia sepuluh tahun, ia menjadi misdinar, lalu di usia empat belas tahun bergabung dalam Orang Muda Katolik (OMK).
“Kalau jadi misdinar, aktivitasnya hanya di gereja saja,” kenangnya. “Tapi saat ikut OMK, saya baru tahu kami bisa turun ke masyarakat, berbagi, dan berjumpa dengan orang muda lain di luar paroki.”
Keterlibatannya kian luas ketika Semana Santa tiba, sebuah momen sakral bagi umat Katolik di Larantuka. Moni kerap terlibat dalam tablo sebagai pemeran wanita Yerusalem, Veronica, hingga pelafal Oposmerus. Dari situ, ia belajar bahwa iman tidak hanya hidup di altar, tapi juga di panggung kehidupan nyata.
Pengalaman pertamanya mengikuti pembubaran panitia Semana Santa di rumah Pastor Ancis menjadi titik balik. “Di situ saya sadar, sebagai OMK kami bukan hanya pelengkap liturgi. Kami bisa menjadi agen perubahan, turun ke masyarakat,” tuturnya.
Dari Laut Hingga Lembah: Menghidupi Talenta
Menjadi OMK bukan hanya soal misa, doa, dan kegiatan rohani. Bagi orang muda seperti Monik, panggilan itu menjelma menjadi aksi konkret. Ketika menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada, ia mengambil lisensi selam, keputusan yang kelak menuntunnya menjadi bagian dari tim rescue laut di Flores Timur.
“Awalnya hanya hobi,” katanya, “tapi ternyata Tuhan arahkan ke situ. Saya ikut menanam karang, bantu evakuasi kalau ada kecelakaan laut.” Ia juga terlibat dalam program konservasi pesisir bersama Komisi Kepemudaan Keuskupan Larantuka dan komunitas lingkungan lokal.
Keterlibatan itu berbuah pengakuan. Tahun lalu, Monik terpilih mengikuti Indonesia Young Leaders Program di Selandia Baru, program yang memberi ruang bagi pemuda-pemudi Indonesia Timur untuk mengembangkan kepemimpinan berbasis nilai dan budaya lokal.
Baginya, pengalaman itu bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan panggilan untuk membawa suara timur, bahwa iman dapat diwujudkan lewat tindakan nyata menjaga bumi, laut, dan sesama.
Gereja yang Mendengar dan Berjalan Bersama
Namun, perjalanan OMK tidak selalu mudah. Monik melihat banyak rekan sebayanya yang menjauh dari kegiatan gereja. “Kalau bicara soal kuantitas, yang aktif hanya itu-itu saja,” katanya. “Anak muda sekarang sibuk, dan yang mau aktif biasanya karena kegiatan rekreasional.” Fenomena itu bukan semata soal kemalasan. Di baliknya ada kebutuhan yang belum dijawab: ruang untuk didengar, ruang untuk berkreasi, ruang untuk bertumbuh. “Program OMK sering kali sudah disusun tanpa melibatkan kami. Ketika gagal, kami juga yang disalahkan,” ujarnya jujur. Padahal, menurut Monik, orang muda ingin berekspresi, bertindak, dan bisa belajar dari kesalahan asal tetap didampingi.
Monik percaya, gereja akan bersinar bukan lewat fanatisme, melainkan melalui sinodalisme: berjalan bersama, lintas generasi. “Kami butuh gereja yang mau mendengar. Orang muda harus menemukan panggilannya, bukan dipaksa. Biarkan kami berkarya dengan cara kami sendiri,” tegasnya.
Dari altar Semana Santa hingga dasar laut Flores Timur, dari doa hingga aksi sosial, suara orang muda seperti Monik menggemakan pesan yang sama: Gereja hidup ketika anak mudanya dipercaya. Sebab di tangan mereka, kasih Allah menjelma nyata dalam pelayanan, solidaritas, dan keberanian menjaga martabat sesama serta bumi pertiwi.

Freelance, Contributor for Dokpen KWI


