Pertemuan Komdik KWI di Ende 2026, Komisi Pendidikan KWI, Komdik KWI, Komdik Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Agung Ende, Pendidikan Katolik, Pendidikan Indonesia, Romo Antonius Vico Christiawan
  • SINERGI PENDIDIKAN
  • KESEHATAN MENTAL DAN GERAKAN 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN

Mirifica.Net. Kegiatan Konsolidasi Seksi Pendidikan Paroki dan Kuasi Paroki se-Keuskupan Agung Ende pada 24–25 April 2026 di Rumah Pembinaan Kerahiman Ilahi bukan sekadar pertemuan biasa, ia seperti sebuah “perjumpaan yang lama dinanti”. Ada sesuatu yang hangat, nyaris personal, ketika 63 orang dari tiga kevikepan berkumpul dalam satu ruang, membawa cerita, harapan, bahkan kegelisahan yang selama ini mungkin dipendam sendiri-sendiri. Untuk pertama kalinya, mereka tidak berjalan sendiri. Mereka duduk, mendengar, dan saling menatap dalam satu arah yang sama: bagaimana membuat pendidikan Katolik kembali berdenyut, hidup, relevan, dan menyentuh umat.

Sejak awal, suasana terasa “hidup” bukan hanya ramai, tetapi penuh rasa. Tema yang diangkat adalah sinergi pendidikan, kesehatan mental, dan Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan, seperti membuka lapisan demi lapisan cara pandang kita tentang pendidikan. Perlahan, peserta diajak keluar dari rutinitas yang sering kaku: angka, kurikulum, target. Mereka disentuh untuk melihat lebih dalam, bahwa pendidikan sejatinya adalah tentang manusia. Tentang anak-anak yang sedang bertumbuh, tentang guru yang berjuang diam-diam, tentang keluarga yang kadang lelah tetapi tetap berharap. Di titik ini, konsolidasi berubah menjadi ruang refleksi yang jujur dan diam-diam, menyentuh.

Dalam sesi materi, Romo Antonius Vico Christiawan, SJ (Sekretaris Eksekutif Komisi Pendidikan KWI) melalui pemaparan Ranti Marie, S.Pd., M.Pd., (Staf Komisi Pendidikan KWI) tidak sekadar “menjelaskan program Komisi Pendidikan 2026”, tetapi mengajak semua yang hadir untuk membayangkan masa depan bersama. Tiga fokus utama yakni Insan Pendidikan, Lembaga pendidikan, dan Kolaborasi. Program ini dibentangkan bukan sebagai wacana tinggi, tetapi sebagai ajakan yang terasa dekat. Ketika berbicara tentang   Sentra Belajar Guru, kaderisasi siswa inspiratif, hingga perhatian pada kesehatan mental dan 1000 hari pertama kehidupan, ada satu pesan yang pelan-pelan mengendap, “perubahan itu tidak datang dari luar, ia harus tumbuh dari dalam diri manusia”.

Lalu muncul pertanyaan yang menggoda sekaligus mengusik: apakah pendidikan Katolik hari ini masih punya “rasa yang berbeda”? Di sinilah arah pengembangan mulai terasa lebih tajam. Kurikulum yang holistik, pendekatan yang humanis, perhatian pada mereka yang sering terlupakan, hingga semangat inklusivitas. Semuanya seperti dirangkai untuk menjawab kegelisahan yang selama ini hanya menjadi bisikan. Bahkan dorongan untuk masuk ke dunia digital dan memperluas peran hingga ke paroki-paroki terasa seperti undangan halus: pendidikan Katolik tidak boleh berjalan sendiri, ia harus menjadi gerakan bersama.

Ketika Romo Vico berbicara tentang “Wilayah Koordinasi Sinodal”, suasana seakan menemukan benang merahnya. Ia bukan sekadar menjelaskan struktur, tetapi memperlihatkan bagaimana semuanya sebenarnya saling terhubung. KWI, Keuskupan, Paroki, bukan tiga dunia yang terpisah, tetapi satu tubuh yang bergerak bersama. Ada keindahan tersendiri dalam gagasan ini, “bahwa setiap peran, sekecil apa pun, punya arti”. Bahwa “berjalan bersama bukan hanya slogan, tetapi cara hidup”.

Kemudian, suasana perlahan berubah lebih hening saat sesi kesehatan mental dimulai bersama Dr. Yohana Ratrin Hestyanti, Psikolog (Pengurus Komisi Pendidikan KWI). Di sini, peserta seperti diajak “menengok ke dalam”. Ada banyak hal yang mungkin selama ini terlewat: luka batin, kelelahan, kecemasan yang tak sempat diucapkan. Ketika dibicarakan tentang anak-anak yang cemas, relasi yang rapuh, dan pentingnya peran orang tua serta guru, banyak yang mulai tersentuh, karena itu bukan teori, tetapi realitas sehari-hari. Lalu ketika 1000 Hari Pertama Kehidupan dibahas, kesadaran itu seperti ditegaskan: masa depan tidak dimulai di sekolah, tetapi jauh sebelumnya: di rumah, dalam pelukan, dalam perhatian yang sering dianggap kecil.

Diskusi yang muncul setelahnya terasa begitu jujur bahkan sedikit “panas”, tetapi justru di situlah keindahannya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Soal dana yang seret, guru yang belum sejahtera, relasi yang belum sehat antara sekolah dan yayasan, hingga kesenjangan dengan sekolah negeri, semuanya dibuka apa adanya. Bahkan muncul pertanyaan yang cukup berani: bagaimana dengan umat Katolik yang “hidup” di sekolah negeri? Apakah mereka juga disentuh? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak nyaman, tetapi justru penting. Dari situlah, sesuatu yang lebih besar mulai lahir. Bukan sekadar kesadaran, tetapi arah. Rencana tindak lanjut yang dirumuskan bukan lagi sekadar daftar program, tetapi seperti peta jalan yang punya “jiwa”. Semuanya bermuara pada satu tujuan: membangun insan pendidikan yang tangguh. Bukan hanya pintar, tetapi kuat. Bukan hanya kompeten, tetapi utuh secara mental, spiritual, sosial, dan fisik.

 Langkah-langkahnya pun terasa konkret melalui Rencana Tindak Lanjut (RTL). Penataan tata kelola, penguatan pembiayaan melalui kolekte pendidikan, transparansi keuangan, hingga perhatian serius pada kesejahteraan guru, semuanya seperti potongan puzzle yang mulai tersusun. Namun yang paling menarik, fondasi utamanya tetap manusia. Program kesehatan mental, mindfulness, satu jam tanpa gawai, hingga penguatan pengasuhan menunjukkan bahwa perubahan besar sering dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan kesadaran.

Di sisi lain, pengembangan kurikulum khas Katolik memberi warna tersendiri, bukan hanya untuk memperkuat identitas, tetapi juga sebagai daya tarik. Bahkan ada keberanian untuk melangkah lebih jauh: membawa nilai-nilai itu ke sekolah negeri, menjangkau mereka yang selama ini “di luar pagar”. Ini bukan sekadar strategi, tetapi sikap. Semua ini kemudian diperkaya dengan program webinar, advokasi kebijakan, dan sistem monitoring yang rapi.

Namun pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa lengkap rencananya,  melainkan seberapa jauh komitmen untuk menjalaninya. Karena perubahan tidak pernah terjadi dalam satu malam, ia tumbuh perlahan, melalui langkah-langkah kecil yang setia. Dan mungkin, di situlah letak daya tarik sebenarnya dari konsolidasi ini. Ia bukan tentang dua hari kegiatan. Ia adalah awal dari sebuah perjalanan panjang yang mungkin melelahkan, kadang membingungkan, tetapi penuh harapan. Sebab di dalamnya, ada satu kesadaran yang perlahan tumbuh, “bahwa masa depan pendidikan Katolik tidak ditentukan oleh seberapa hebat programnya, tetapi oleh keberanian untuk berubah, untuk jujur, dan untuk berjalan bersama”.

Rabu, 29 April 2026
*Ranti Marie, S.Pd., M.Pd.__Staf Komisi Pendidikan KWI