Suasana ballroom di SAGKI 2025 Hotel Mercure Convention Center, Acol, Jaakrta. Foto :Tim Pubdok SAGKI 2025.

Di tengah percakapan hangat tentang toleransi dan sinodalitas, muncul sebuah kisah yang membuat ruangan sejenak terdiam. Bukan kisah seorang imam atau uskup, melainkan kisah seorang pria berwajah teduh — seorang umat Buddha yang datang dari Surabaya, membawa pesan damai dari hati yang terbuka.

Dialah Prof. Philip Kuntjoro Widjaja, Guru Besar sekaligus Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) periode 2022–2026, dan juga anggota aktif Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Timur. Dengan nada lembut dan sesekali tersenyum, ia memulai kisahnya — bukan tentang teori kerukunan, tetapi tentang pengalaman yang menembus batas keyakinan.

“Komunikasi itu dasar dari segalanya,” ujarnya pelan.
“Kalau kita mau saling mengerti, pertama-tama kita harus mau duduk bersama, mendengar, berbicara, dan memahami.”

Selama bertahun-tahun, Prof. Philip memperjuangkan perluasan ruang perjumpaan antaragama. Ia menghadiri undangan dari siapa pun — Muslim, Katolik, Hindu — karena baginya, setiap pertemuan adalah kesempatan untuk meneguhkan kemanusiaan yang sama. Namun, ada satu pengalaman yang tak pernah ia lupakan: sebuah perjalanan rohani yang terjadi jauh dari rumah — di Vatikan.

Sebuah Keajaiban di Kota Suci

Hari itu, Prof. Philip dan keluarganya berziarah, mengunjungi tempat-tempat suci Katolik. Istrinya, yang sejak lama menderita sakit, ikut serta meski tubuhnya lemah. “Kami berhenti di sebuah tempat suci,” kenangnya. “Saya turun, tapi istri saya menolak. Dia merasa terlalu sakit untuk berjalan.”

Ia memilih menunggu di mobil. Namun entah bagaimana, seseorang menghampiri dan memintanya untuk turun ke bawah — bukan melalui pintu wisatawan, melainkan lewat jalur khusus, di antara empat tiang besar yang mengarah langsung ke makam seorang kudus. “Saya masuk… dan berdoa,” tuturnya lirih. “Saya tidak tahu doa macam apa itu, tapi saya berdoa dengan hati saya sepenuhnya.”

Malam itu, sesuatu terjadi.
“Istri saya berkata, ‘Kok aneh, ya… rasanya tidak sakit lagi.’”
Ia terdiam lama, menatap istrinya dengan mata berkaca. Rasa syukur memenuhi dadanya.

Bagi sebagian orang, itu mungkin kebetulan. Tapi baginya, itu tanda — bahwa Tuhan dapat bekerja lewat pintu mana saja, bahkan pintu yang bukan berasal dari keyakinan kita sendiri.

Jembatan yang Bernama Komunikasi

Kisah itu menjadi pengingat bagi Prof. Philip untuk tidak membatasi kasih. “Agama apa pun mengajarkan kebaikan,” katanya. “Yang penting kita mau berkomunikasi, mau mengenal, mau memahami.”

Ia percaya, komunikasi yang jujur melahirkan saling pengertian. Dari pengertian tumbuhlah toleransi. Dan dari toleransi, lahir komunitas yang damai, tanpa curiga dan tanpa saling mengganggu. Bagi dia, itulah makna terdalam dari berjalan bersama — bukan slogan kosong, tetapi langkah nyata untuk menumbuhkan kedamaian sejati di tengah keberagaman.

“Semoga Semua Makhluk Berbahagia”

Di akhir kisahnya, Prof. Philip menundukkan kepala sejenak dan mengucapkan doa penutup dari tradisi Buddhis:

“Semoga semua makhluk berbahagia.”

Kalimat sederhana itu menggema di ruangan. Dalam keheningan yang hangat, pesan itu terasa menembus batas agama mana pun — menegaskan bahwa iman sejati tak berhenti di altar, tetapi hidup di hati yang mau memahami. Dan di situlah, Gereja — bersama seluruh umat manusia — menemukan makna terdalam dari sinodalitas: berjalan bersama, dalam kasih yang melampaui batas.