Beranda KWI Media Sosial Jadi Sarana Penyebaran Paham Radikal, Waspadai

Media Sosial Jadi Sarana Penyebaran Paham Radikal, Waspadai

Direktur Intelijen Densus 88 Anti Teror Kombes Pol Ibnu Suhendra / Fotografer : Abdi Susanto

ANCAMAN teroris yang terjadi saat ini di dalam negeri ada kaitannya dengan luar negeri. Semua tak lepas dari pengaruh tokoh-tokoh ISIS (Islamic State of Iraq and Syria ) yang ada di Suriah. Pentolan teroris ini menyampaikan seruan fenomenal.

“Apabila jalan Hijrah ke Suriah tertutup, maka lakukan amaliah (amal) di negara masing-masing. Jadi setiap kasus teror di Indonesia, berdasar hasil interogasi semua terkait dengan seruan para tokoh ISIS,”ujar Direktur Intelijen Densus 88 Anti Teror Kombes Pol Ibnu Suhendra, dalam Forum Dialog dan Literasi Media di Lembang, Bandung, Sabtu(14/10).

Media sosial dalam hal ini berperan penting dalam proses penyebaran ideologi-ideologi radikal ini. Selain propaganda, lewat media sosial, para teroris warga Indonesia yang ada di luar negeri ini juga melakukan perekrutan. Mereka bahkan mengajarkan cara-cara membuat bom atau alat peledak lewat media sosial.

Parahnya, menurut Ibnu, sasaran mereka kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak usia remaja. “Ada beberapa perempuan yang siap jadi pelaku bom bunuh diri. Kejadian bom di Gereja Santo Yosep dilakukan anak umur 14 tahun dan dia termotivasi karena hubungan langsung dengan Bahrun Naim. Mereka ini tidak berhubungan fisik dalam jarak dekat melainkan hanya berkomunikasi jarak jauh secara online,”tegas Ibnu.

Karena itu, Ibnu mengajak para Orang Muda Katolik (OMK) dalam hal ini OMK Keuskupan Bandung melawan fenomena ini dengan membuat berbagai narasi positif, membangun persaudaraan, pluralisme dan persatuan lewat media sosial. “Jangan biarkan kelompok-kelompok radikal ini bergerak sendiri. Harus dilawan,”tegas Ibnu.