Longsor Sumatera, Banjir Sumatera, Keuskupan Padang, Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Sibolga, Gereja Katolik Indonesia, Caritas Indonesia, Carina, PSE, KWI, Komsos, Laudato Si, Paus Fransiskus, Kerusakan Bumi, Paus Leo XIV doakan korban bencana Sumatera

MIRIFICA.NET, ROMA – Di penghujung bulan November 2025, banjir bandang disertai tanah longsor melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Bencana itu sangat mencekam, menyisakan duka mendalam bagi kita masyarakat Indonesia dan secara khusus bagi jutaan warga terdampak. Daerah bencana ini mencakup tiga wilayah keuskupan: Keuskupan Sibolga, Keuskupan Padang dan Keuskupan Agung Medan. Wilayah Keuskupan Sibolga yang paling parah dan terdampak.

Dari berbagai laporan media, korban meninggal sudah tembus 964 orang. Angka ini terus bertambah karena masih banyak korban yang belum ditemukan.

IRRIKA Gelar Aksi Solidaritas

Bencana yang meluluhlantakkan beberapa wilayah Sumatera itu tersebar luas hingga ke mancanegara. Dari Roma, Ikatan Rohaniwan-Rohaniwati di Kota Abadi (IRRIKA) mendoakan para korban bencana dan menggelar aksi solidaritas.

Pengurus dan anggota IRRIKA terdiri dari para pastor, suster, bruder yang sedang studi dan melayani di Roma, Italia. Dalam kesibukan studi dan pelayanan, pada Minggu (7/12/2025) mereka berkumpul di biara Generalat SVD, Roma untuk mengumpulkan donasi. Semua donasi yang terkumpul kemudian langsung ditransfer ke rekening Keuskupan Sibolga sebagai aksi nyata belarasa.

Dari segi jumlah, donasi para pastor, suster dan bruder yang sedang studi di Roma ini tidaklah seberapa. Namun, mereka mau berbela rasa atas duka mendalam para korban. Para pastor, suster dan bruder ini bergabung dengan berbagai pihak yang telah lebih dahulu dan akan membantu para korban terdampak bencana. Mereka tidak hanya “berterima kasih” kepada siapa saja yang sudah rela membantu Saudara-Saudari kita di Sumatera, tetapi turut beraksi, berpartisipasi dan berempati.

Pengurus dan anggota IRRIKA usai gelar aksi solidaritas untuk Keuskupan Sibolga, Minggu (7/12/2025) di Rumah Generalat para Pastor dan Bruder SVD, Roma.

Sebagai Ketua IRRIKA Pastor Gatot sangat berterima kasih atas bela rasa para pastor dan suster: “Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi Saudara-Saudari dalam gerakan bela rasa untuk Sumatera ini. Untuk selanjutnya kita dapat melanjutkan aksi bela rasa ini dengan bersatu dalam doa dan bergerak melalui jaringan kita masing-masing supaya setiap orang semakin mengamalkan “Laudato Si” dan pertobatan ekologis”.

Ucapan Terima Kasih dari Uskup dan Vikjen Sibolga

Donasi dan bela rasa dari IRRIKA diterima dengan haru oleh Uskup Sibolga Mgr. Fransiskus Sinaga dan Vikjen Pastor Ignatius Purwo Suranto, OSC.

Mgr. Frans menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada IRRIKA: “Saudara-Saudariku IRRIKA, saya dan beserta umat yang menjadi korban bencana: banjir bandang dan tanah longsor telah mengakibatkan banyak korban jiwa, hilang dan ribuan orang masih dalam pengungsian, serta kerusakan di mana-mana sungguh menyesakkan, memilukan, menyedihkan hati. Dari hati yang terdalam, saya mengucapkan terima kasih banyak atas doa, perhatian, kepedulian, bantuan dan belarasa yang disampaikan kepada kami (masyarakat Sibolga dan Tapanuli Tengah) akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor. Doa dan bela rasa kalian membuat kami terbantu dan tertolong. Semoga Tuhan memberkati kalian semua anggota IRRIKA, diberi kesehatan dan semangat dalam tugas perutusan sebagai mahasiswa-mahasiswi di Roma. Salam, doaku dan berkat Tuhan”.

Senada dengan Bapa Uskup, Pastor Purwo mengatakan: “mewakili Caritas-PSE Keskupan Sibolga, saya menghaturkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada IRRIKA Roma atas kemurahan hati dan tanda bela rasa yang telah diberikan. Salam belarasa”.

Paus Leo XIV Doakan Korban Bencana Sumatera

Pada hari yang sama, dari Basilika Santo Petrus Vatikan, Roma, Paus Leo XIV menunjukkan empati dan bela rasanya. Dalam Doa Angelus, Minggu (7/12/2025), pimpinan tertinggi Gereja Katolik itu mendoakan korban meninggal dan keluarga-keluarga yang berduka atas kehilangan orang-orang terkasih mereka. Paus yang merupakan sarjana matematika dan ahli hukum Gereja itu, bahkan meminta komunitas-komunitas internasional untuk membantu para korban.  

Paus Leo mengatakan: “Saya merasa dekat dengan rakyat Asia Selatan dan Asia Tenggara – Indonesia, Sri Lanka, Thailand, dan Malaysia – yang telah mengalami tantangan berat akibat bencana baru-baru ini. Saya mendoakan para korban, keluarga yang berduka atas kehilangan orang-orang terkasih mereka, dan semua yang memberikan bantuan. Saya mendesak komunitas internasional dan semua orang yang berbaik hati untuk mendukung saudara-saudari kita di wilayah tersebut dengan tindakan konkret sebagai bentuk solidaritas.”

Sudah banyak pihak yang terlibat membantu para korban bencana Sumatera ini. Namun, kita perlu melakukan aksi nyata yang lebih mendasar: pertobatan ekologis. Kita perlu menjaga dan memelihara lingkungan hidup kita, menjaga bumi agar tidak rusak. Paus Fransiskus dalam Ensiklik “Laudato Si” menegaskan bahwa hutan dan lingkungan hidup yang rusak membuat bumi, sebagai rumah kita bersama, berteriak. Bencana banjir dan tanah longsor merupakan dampak dari kerusakan bumi.

Paus Fransiskus menegaskan bahwa dunia saat ini membutuhkan pertobatan ekologis, yang berarti membiarkan seluruh buah perjumpaan kita dengan Yesus Kristus berkembang dalam hubungan kita dengan dunia sekitar. Menghayati panggilan untuk melindungi karya Allah adalah bagian penting dari kehidupan yang saleh, dan bukan sesuatu yang opsional atau aspek sekunder dalam pengalaman Kristiani kita (bdk. Laudato Si, no. 217).

Roma, 10 Desember 2025