SAGKI 2025, Berjalan Bersama, Peziarah Pengharapan, Gereja Katolik Indonesia, Tahun Yubileum, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Sinodalitas, Obor Media, Penerbit Obor, Keuskupan agung Jakarta, Kesukupan Atambua, Keuskupan Agung Kupang, Orang Muda Katolik, OMK, wanita Katolik Republik Indonesia, WKRI, Perempuan dalam Gereja Katolik
Lisa A. Riyanto (tengah-depan) setelah Kegiatan Pertemuan dan Diskusi dalam salah satu agenda kegiatan Perayaan PKSN Mei 2023 bersama Ibu-ibu WKRI, Legio Maria, PKK dan Pengurus Lingkungan wilayah Keuskupan Atambua di Noemeto - Kefamenanu - NTT. Foto: IG Lisa_a.r

SAGKI 2025 mengusung tema besar “Sinodalitas: Berjalan Bersama sebagai Peziarah Pengharapan.” Tema ini bukan sekadar panggilan, melainkan ajakan bagi seluruh umat beriman, termasuk perempuan, untuk menemukan makna kehadiran mereka dalam Gereja. Dalam semangat ini, perempuan juga menjadi bagian penting yang turut menyalakan pengharapan dalam kehidupan menggereja dan keluarga. Sosok seperti Lisa A. Riyanto, seorang ibu, artis, sekaligus umat Katolik aktif, menjadi cerminan nyata dari peziarah pengharapan itu.

Baginya, pengharapan harus senantiasa ada dan tak boleh padam. “Sebagai umat Katolik pasti harus punya pengharapan terus dong. Selalu berharap akan pertolongan Tuhan dan memang Tuhan selalu bersama dengan kita sepanjang hidup kita,” tuturnya pada wawancara untuk Lentera SAGKI 2025 (yang ditayangkan oleh Komsos KWI). Ia menegaskan bahwa pengharapan bukan sekedar penantian, melainkan sebuah latihan iman untuk peka akan kehadiran Tuhan yang bekerja melalui keluarga dan orang-orang di sekitar yang selalu memberi pertolongan kita.

Iman dan Dinamika Hidup Sehari-Hari

Perjalanan iman seorang perempuan sering kali ditandai oleh keseharian yang penuh dinamika antara tanggung jawab, pekerjaan, dan kehidupan batin. Namun, bagi Lisa, pengalaman-pengalaman sederhana justru menjadi sarana perjumpaan dengan Allah. “Melalui keluarga, Tuhan itu mengirim malaikat-malaikatnya,” katanya lembut. Pernyataan ini menunjukkan kesadaran bahwa kasih Tuhan tidak hadir secara tiba-tiba atau hal-hal istimewa saja, melainkan melalui hubungan yang hangat dalam lingkaran kecil rumah tangga.

Sinodalitas, dalam pandangan Lisa, berakar pada hati yang terbuka dan kesediaan untuk mendengarkan. Itulah sebabnya ia menekankan pentingnya komunikasi di dalam keluarga. “Komunikasi itu penting supaya kita selalu bersatu di dalam keluarga,” ujarnya. Dalam komunikasi yang jujur dan hangat, benih-benih sinodalitas mulai tumbuh: berbagi, mendengarkan, memahami, dan berjalan bersama menuju kebaikan bersama.

Tema peziarah pengharapan menemukan menemukan makna terdalamnya ketika para perempuan berani memandang hidup mereka sebagai perjalanan iman. Lisa, seperti banyak perempuan lainnya, pernah mengalami kehilangan dan luka, namun juga menemukan kekuatan baru di tengah duka. “Tahun ’94 saya mulai masuk dunia musik, tapi tepat di tahun itu juga saya kehilangan ayah saya,” kenangnya. Namun justru dari masa paling gelap itulah ia menemukan terang, melalui lagu-lagu pujian yang menjadi sumber kekuatan dan penghiburan, terutama bagi ibunya sendiri.

“Lagu-lagu itu memberikan kekuatan buat ibu saya,” ungkapnya. Dari pengalaman pribadi ini, Lisa belajar bahwa pengharapan sejati lahir ketika seseorang mengizinkan Tuhan berkarya melalui kelemahan dan kesedihan. Di sanalah perempuan mengambil bagian dalam perjalanan Gereja: menjadi saksi harapan yang lahir dari pengalaman hidup yang nyata.

Keluarga Sebagai  Gereja Mini

Dalam pandangan Lisa, keluarga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan “Gereja mini” tempat iman ditanam dan dirawat. “Kalau ada yang sedih, yang lain saling menguatkan. Karena kan dibilang juga keluarga itu adalah Gereja mini,” ujarnya. Keluarga menjadi ruang pertama di mana nilai-nilai Gereja dihidupi secara konkret, dalam kasih, kesabaran, dan kebersamaan.

Ia menekankan peran orang tua, khususnya ibu, dalam menginisiasi komunikasi dan kebersamaan. “Kalau memang kita menganggap pertemuan keluarga itu penting, anak-anak juga ikut merasa bahwa ini hal yang penting,” katanya. Bagi Lisa, orang tua bukan hanya pengambil keputusan, melainkan teladan yang menanamkan semangat kebersamaan kepada anak-anaknya sejak dini.

Menariknya, Lisa menganggap keluarga sebagai tempat untuk belajar mendengarkan dan berdialog. “Kalau ada hal-hal yang akan kita lakukan bersama-sama, misalnya liburan, pasti kita ada rapat keluarga dulu,” katanya sambil tersenyum. Dalam rapat sederhana itu, suara setiap anggota keluarga, termasuk anak-anak, dihargai dan dipertimbangkan. Ia percaya, cara ini menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama dan menghormati keberagaman pandangan.

Ia juga menerapkan konsep “berjalan bersama” dalam mengelola kehidupan sehari-hari, baik karir maupun perannya sebagai seorang Ibu. Di tengah kesibukannya, Lisa berusaha tetap hadir bagi anak-anaknya, baik secara fisik maupun lewat teknologi. “Saya sering masukkan jadwal ujian dan kegiatan anak-anak ke kalender saya. Kalau bentrok, saya tetap video call atau kirim foto di grup keluarga,” ceritanya. Dengan cara sederhana ini, ia menunjukkan bahwa “berjalan bersama” bisa dimulai dari kesetiaan pada hal-hal kecil dalam keluarga.

Melalui pengalaman ini, Lisa mengajak para perempuan untuk tidak merasa kecil dalam menghadapi tantangan. Sebab, kehadiran dan perhatian seorang ibu sudah menjadi bentuk nyata dari pelayanan dan pewartaan. Ia percaya, Gereja yang kuat berakar dari keluarga yang saling mendukung dan berdoa bersama.

Keluarga yang hidup dalam semangat sinodal akan menciptakan umat yang berani berjalan bersama, saling mendukung dalam suka dan duka. Seperti yang diungkapkan Lisa, “Yang penting datang dulu, hadir dulu, karena kehadiran kita saja sudah memberikan semangat bagi yang lain.”

Hadir, Menggerakkan, Menghidupi

Bagi Lisa, perempuan memiliki peran penting dalam menghidupi Gereja, meskipun tampak sederhana. “Dengan talenta yang kita punya, kalau mau diberikan untuk Gereja bisa banget, karena itu bentuk ungkapan rasa syukur,” jelasnya. Ia memnberi contoh ibu-ibu yang pandai memasak yang membantu di dapur umum saat bencana, atau yang senang bernyanyi bisa ikut aktif dalam paduan suara lingkungan.

SAGKI 2025, Berjalan Bersama, Peziarah Pengharapan, Gereja Katolik Indonesia, Tahun Yubileum, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Sinodalitas, Obor Media, Penerbit Obor, Keuskupan agung Jakarta, Kesukupan Atambua, Keuskupan Agung Kupang, Orang Muda Katolik, OMK, wanita Katolik Republik Indonesia, WKRI, Perempuan dalam Gereja Katolik
Pelayanan Sosial Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPC Sta. Maria Mamuju Keuskupan Agung Makassar. Foto: KAMS.or.id

Peran perempuan mungkin tidak terlihat besar atau istimewa. Namun, bagi Lisa, yang terpenting adalah kehadiran. “Kehadiran kita saja sudah memberikan semangat bagi yang lain,” tegasnya. Dengan hadir di beberapa kegiatan seperti latihan koor, pertemuan lingkungan, atau kegiatan sosial, bisa berarti menyalakan harapan bagi komunitas itu sendiri.

Ia pun menyadari tantangan bagi banyak perempuan yang memiliki tanggung jawab rumah tangga. Namun menurutnya, kreativitas dapat menjadi solusi. “Kalau anak-anak masih kecil, bisa diajak sekalian. Anak-anak bisa baca buku atau nonton bareng di ruang sebelah,” sarannya. Dengan pendekatan seperti ini, perempuan tidak harus memilih antara keluarga dan Gereja, karena keduanya dapat berjalan beriringan.

Lisa juga membuka rumahnya untuk kegiatan lingkungan, sebagai wujud nyata keterbukaan. “Kalau saya enggak bisa hadir, tempat saya terbuka untuk mereka rapat atau latihan paduan suara,” ujarnya. Sikap ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam Gereja tidak berhenti pada partisipasi, tetapi meluas menjadi pelayanan dan keramahan yang dapat menghidupakan semangat dalam komunitas.

Perempuan dalam Sinodalitas Gereja

Sinodalitas merupakan ajakan bagi seluruh umat untuk berjalan bersama, saling mendengarkan, dan menghargai suara yang beragam. Di sini, suara perempuan juga memiliki peran penting. Lisa menegaskan, “Sebagai perempuan, kita tetap menjadi pewarta kabar sukacita di mana pun kita berada.”

Bagi Gereja, suara perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan sumber kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup yang nyata. Oleh karena itu, Gereja perlu menciptakan ruang yang lebih luas agar suara-suara perempuan dapat didengar dan dihayati. Seperti Lisa, banyak perempuan menghidupi iman mereka melalui karya, pelayanan, dan kasih yang tak terlihat, namun bisa jadi justru berdampak nyata bagi komunitas.

Kehadiran perempuan di lingkungan Gereja seringkali menjadi sumber penyemangat. “Coba bayangkan acara lingkungan tanpa perempuan, pasti sepi dan hening,” ujar Lisa sambil tertawa. Kalimat sederhana itu menyentuh realitas bahwa perempuan kerap menjadi penggerak sekaligus menjaga ritme kehidupan komunitas. Mereka tidak hanya hadir, tetapi juga menumbuhkan kebersamaan yang merupakan semangati sinodalitas.

Suara perempuan juga menjadi tanda pengharapan di tengah Gereja yang terus bertumbuh. Dengan kesetiaan, kelembutan, dan ketekunan, mereka menunjukkan wajah Allah yang penuh kasih. Gereja menjadi tempat yang lebih hidup warna, emosi, dan spiritualitas mereka yang unik.

Dengan demikian, sinodalitas bukan sekedar kebijakan, melainkan sebuah pengalaman di mana setiap suara, termasuk suara perempuan, dihargai dan diwartakan. Seperti kata Lisa, “Kita bisa memberi dampak dari hal kecil, asal dilakukan dengan hati.” Kalimat ini memberi pesan yang mendalam bahwa Gereja mungkin tidak akan berjalan jauh tanpa langkah-langkah lembut para perempuan di dalamnya.

Menjadi Peziarah Pengharapan di Dunia yang Nyata

Sebelum mengakhiri wawancara, Lisa mengingatkan bahwa menjadi peziarah pengharapan berarti terus berjalan, meski jalan tidak selalu mudah. “Kita tetap menjadi pewarta kabar sukacita, di manapun kita berada,” katanya. Perjalanan ini adalah panggilan untuk terus berani hadir, mendengarkan, dan membawa harapan bagi sesama.

Dalam dunia yang semakin sibuk dan individualistis, kesetiaan perempuan untuk hadir dan terlibat bisa menjadi tanda kasih Tuhan yang nyata. Baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan Gereja, perempuan menunjukkan bahwa pengharapan tidak akan pudar selama masih ada yang mau berjalan bersama.

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan hanya milik para imam, biarawan, atau biarawati, melainkan milik seluruh umat. SAGKI 2025 menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana Gereja mendengarkan, memberi ruang bagi semua, termasuk perempuan.