Komsos KAE, Keuskupan Agung Ende, Pelatihan Kmsos KWI - Ende, Gereja Katolik Ende, RD Petrus Noegroho Agoeng Sriwidodo, RBE Agung Nugroho, Komsos Paroki , RD Carlo Guru, Pelatihan Jurnalistik Komsos Mataloko, Komsos KWI
Foto: Komsos KAE

MIRIFIA.NET-MATALOKO – Sebanyak 72 peserta yang terdiri dari utusan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) paroki-paroki se-Keuskupan Agung Ende (KAE) serta perwakilan beberapa Koperasi Kredit (Kopdit) berkumpul di Rumah Susun Seminari Mataloko pada Rabu, 4 Februari 2026. Kehadiran mereka bertujuan untuk mengikuti “Pelatihan Jurnalistik, Fotografi, Videografi, dan Konten Media Sosial Paroki”.

Kegiatan diawali dengan Ibadat Pembukaan yang dipimpin oleh RD Carlo Guru. Dalam khotbahnya, beliau menekankan pentingnya peran komunikator dalam menyampaikan pesan iman di tengah perkembangan zaman. Acara kemudian dipandu oleh RD Safan Rengu sebagai moderator yang mengarahkan jalannya kegiatan sepanjang hari pertama.

Memahami Panggilan Komsos: Bukan Sekadar Tim Medsos

Sesi utama menghadirkan narasumber dari Komsos KWI, RD Petrus Noegroho Agoeng Sriwidodo. Dalam materinya yang bertajuk “Ruang Lingkup dan Pesan Insan Komsos”, ia menegaskan bahwa Komsos bukan sekadar tim yang mengelola media sosial. Beliau menekankan pentingnya tata kelola organisasi, kemandirian finansial, serta etika keamanan siber guna membentuk komunikator pengharapan yang profesional di era digital.

RD Petrus Noegroho Agoeng Sriwidodo – Sekretaris Komisi Komsos KWI. Foto: Komsos KAE

Materi kemudian diperdalam oleh narasumber R.B.E. Agung Nugroho yang membawakan topik “Panggilan Mewarta di Komsos”. Ia menjelaskan bahwa Komsos adalah instrumen Gereja untuk menjaga umat melalui alat komunikasi.

“Komsos bukan cuma soal media, tapi soal cara Gereja berkomunikasi dengan dunia. Ini adalah panggilan untuk mewartakan pesan berdasarkan prinsip C&C: Communio (persekutuan), Communication (komunikasi), dan Communio Sacramentalis (sakramen keselamatan),” ungkap Mas Agung saat memaparkan evolusi pemahaman Komsos dari era Pra-Konsili hingga era digital.

Tata Kelola Komsos Paroki yang Berkelanjutan

Lebih lanjut, Mas Agung membedah fungsi Komsos Paroki sebagai badan perencana, pelaksana, penggerak, sekaligus penyelenggara. Komsos diharapkan menjadi jembatan edukasi agar umat semakin kritis dalam bermedia. Dalam aspek organisasi, ditekankan pentingnya sistem yang baku melalui pembuatan bagan organisasi, konsep War Room, hingga penggunaan Tabel Perencanaan dan Pancabakti Komsos.

R.B.E. Agung Nugroho – Jurnalis Kompas. Foto: Komsos KAE

“Tata kelola itu penting agar Komsos tetap berjalan mandiri dan akuntabel, meskipun terjadi pergantian orang di dalamnya,” tegasnya.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab. Perwakilan Komsos Paroki Pemo menanyakan strategi membangun tim yang solid, sementara Irfan menyoroti aspek keamanan data (cloud storage) guna mencegah penyalahgunaan konten foto dan video milik paroki.

Jurnalistik Katolik: Mengolah Fakta Menjadi Berita

Setelah jeda makan malam, sesi dilanjutkan pukul 20.15 WITA dengan materi “Jurnalistik Katolik In Brief“. Mas Agung menjelaskan bahwa jurnalistik adalah kegiatan mengumpulkan fakta, menulis, dan menyebarkannya secara masal dalam bentuk audio, video, maupun teks.

Peserta pelatihan. Foto: Komsos KAE

Peserta dibekali dengan teknik dasar seperti:
Pencarian Fakta: Melalui observasi langsung dan wawancara dengan rumus 5W+1H.
Penulisan Berita: Tips menghindari kalimat panjang, cek ulang fakta, dan cara menulis Feature (tulisan khas) yang lebih santai namun tetap memiliki daya tarik.
News Values: Memahami delapan daya tarik tulisan seperti impact, timeliness, dan prominence.