Beranda KATEKESE Santa Olympias : 17 Desember

Santa Olympias : 17 Desember

17 Desember, Bunda Maria, gereja katolik, gereja Katolik Indonesia, Ibu Maria, katekese, katolik, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Lawan Covid-19, Minggu Adven III, Para Kudus, Para Kudus di Surga, rosario, Santa Olympias, Santa Adelaide, Santa Kristiana, Pengaku Iman, Santa Lusia, Santo Simon Phan Ðac Hòa, Santo Damasus I, Santo Yohanes Roberts, Santo Juan Diego, Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, Santo Sabinus, Santo Nikolas dari Myra, teladan kita, umat katolik, yesus kristus, Katekese
Ilustrasi: catholicnewsagency.com

OLYMPIAS dilahirkan sekitar tahun 361. Ia termasuk dalam keluarga besar Konstantinopel. Ketika ditinggalkan kedua orangtuanya sebagai yatim piatu, ia diserahkan dalam pemeliharaan seorang perempuan Kristen yang mengagumkan. Olympias menerima banyak warisan dari orangtuanya dan ia juga cantik serta menarik. Sebab itu tak sulit bagi pamannya untuk menjodohkannya pada Nebridius, seorang gubernur Konstantinopel. St Gregorius Nazianzen memohon maaf tak dapat datang menghadiri perkawinannya. Sebagai hadiah, St Gregorius mengirimkan sebuah puisi penuh nasehat bijak bagi Olympias.

Nebridius meninggal dunia tak lama sesudahnya. Kaisar mendorong Olympias untuk menikah lagi. Tetapi, ia menjawab, “Andai Tuhan menghendakiku tetap sebagai seorang isteri, Ia tak akan mengambil Nebridius.” Ia menolak untuk menikah lagi. St Gregorius menyebutnya “kemuliaan para janda dalam Gereja Timur.” Bersama sejumlah perempuan saleh lainnya, Olympias melewatkan hidupnya dengan melakukan karya-karya amal kasih. Ia berpakaian sederhana dan banyak berdoa. Dengan suka hati ia membagi-bagikan uangnya kepada mereka yang membutuhkan. Akhirnya, St Yohanes Krisostomus harus mengatakan kepadanya untuk berhati-hati dalam mendermakan hartanya, “Janganlah engkau mendorong kemalasan mereka yang tanpa perlu hidup bergantung padamu,” katanya, “hal itu seperti membuang uang ke dalam laut.”

St Yohanes Krisostomus menjadi Uskup Agung Konstantinopel. Sebagai uskup agung, ia membimbing Olympias dan para pengikutnya dalam karya mereka. Para perempuan itu mendirikan wisma bagi anak-anak yatim piatu dan mereka juga membangun sebuah kapel. Mereka memberikan sumbangan besar kepada banyak orang. St Yohanes Krisostomus menjadi pembimbing terkasih Olympias. Ketika uskup agung itu diasingkan, Olympias amat berduka. Ia sendiri kemudian juga harus menanggung aniaya. Komunitas para janda dan perempuan selibat yang dipimpinnya dipaksa menghentikan karya belas kasih mereka. Di samping itu, kesehatan Olympias memburuk dan ia menanggung banyak kritik. St Yohanes menulis kepadanya, “Aku tak dapat berhenti menyebutmu kudus. Kesabaran dan ketegaran dengan mana engkau menanggung penderitaanmu, pula kebijaksanaan, kearifan dan belas kasihmu telah memperolehkan bagimu kemuliaan dan ganjaran besar.”

St Olympias wafat pada tahun 408 dalam usia menjelang empatpuluh tahun. Orang menggambarkannya sebagai “seorang perempuan mengagumkan, bagai sebuah bejana berharga yang penuh Roh Kudus.”

Kemurahan hati St Olympias menyentuh hidup banyak orang. Bagaimanakah aku dapat terlebih murah hati kepada mereka yang di sekelilingku?

Sumber: yesaya.indocell.net

Inspirasimu: Santa Adelaide : 16 Desember