Beranda KATEKESE Santo Konradus dari Piacenza : 19 Februari

Santo Konradus dari Piacenza : 19 Februari

19 Februari, Bunda Maria, gereja katolik, gereja Katolik Indonesia, Ibu Maria, Kanak-Kanak Suci, katekese, katolik, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Lawan Covid-19, Para Kudus, Para Kudus di Surga, Pengaku Iman, Santo Gabinus, Santo Flavianus, Santa Apolonia dan para martir Alexandria, Santa Katarina dari Ricci, Santa Perawan Maria dari Lourdes, Santo Benediktus dari Anaine, Santo Flavianus, Santo Klaudius de la Colombiere, Umat Katolik, Uskup dan Pengaku Iman, Yesus Kristus

KONRADUS lahir di kota Piacenza, Lombardia, Italia, pada tahun 1290, dalam sebuah keluarga bangsawan Italia. Ketika dia masih sangat muda, ia menikah dengan Euphrosyne, puteri dari seorang bangsawan Lodi. Konradus adalah seorang yang bertubuh atletis dan sangat suka melakukan olah raga berkuda dan berburu.

Pada suatu ketika, sewaktu dia sedang berburu, binatang buruannya masuk ke dalam semak belukar yang rimbun dan rapat. Untuk memaksanya terbuka, Konradus memerintahkan para pengiringnya untuk membakar semak belukar itu. Tetapi angin menghembus api ke ladang gandum di sebelahnya, dan api pun terus menjalar dan membinasakan seluruh hasil pertanian itu dan hutan yang ada di sebelahnya. Maka gubernur Piacenza dengan segera mengirim orang-orang bersenjata untuk menangkap para pembakar hutan dan pertanian itu.

19 Februari, Bunda Maria, gereja katolik, gereja Katolik Indonesia, Ibu Maria, Kanak-Kanak Suci, katekese, katolik, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Lawan Covid-19, Para Kudus, Para Kudus di Surga, Pengaku Iman, Santo Gabinus, Santo Flavianus, Santa Apolonia dan para martir Alexandria, Santa Katarina dari Ricci, Santa Perawan Maria dari Lourdes, Santo Benediktus dari Anaine, Santo Flavianus, Santo Klaudius de la Colombiere, Umat Katolik, Uskup dan Pengaku Iman, Yesus Kristus
Ilustrasi

Dirundung ketakutan yang amat mencekam karena timbulnya malapetaka kobaran api yang amat besar itu, Konradus melarikan diri ke dalam kota melalui jalan-jalan yang sepi. Tetapi para petugas keamanan memergoki seorang petani miskin yang sedang membawa seberkas kayu yang sudah menjadi arang dan sedang membawanya ke kota. Karena mereka mengira dialah orang yang bersalah itu, maka mereka menangkapnya. Disiksanyalah dia dan akhirnya orang yang malang itu terpaksa mengakui bahwa dialah yang telah membakar hutan itu terdorong oleh rasa benci. Ia pun diganjar hukuman mati.

Baru setelah orang yang malang itu melewati rumah Konradus pada perjalannya menuju ke tempat eksekusi, tahulah Konradus mengapa hukuman mati itu telah ditimpakan kepadanya. Terdorong oleh hati nuraninya, Konradus pun berlarian ke luar untuk menyuelamatkan orang malang itu dari tangan algojo-algojo, sebelum masyarakat membenarkan bahwa dialah orang yang bersalah itu. Konradus pun pergi menghadap gubernur dan menjelaskan kepadanya bahwa kebakaran itu merupakan hasil suatu kecelakaan; bahwa dia bersedia untuk memberikan ganti rugi semua kerusakan yang telah dilakukannya itu.

Insiden itu mengajarkan kepada Konradus bahwa barang-barang duniawi ini memang sia-sia, dan dia memutuskan untuk memberikan perhatiannya hanya kepada barang-barang yang abadi.

Sumber: katakombe.org

Inspirasimu: Santo Flavianus : 18 Februari