MIRIFICA.NET, Sintang, Februari 2026 – Upaya pemberdayaan ekonomi umat berbasis keadilan ekologis di Keuskupan Sintang perlahan mulai menunjukkan hasil. Dalam penelusuran program-program PSE KWI yang diakses Keuskupan Sintang pada awal Februari 2026, tercatat sedikitnya 16 program telah dijalankan sepanjang tahun 2025. Sepuluh di antaranya difokuskan pada animasi, pelatihan, dan pengembangan sumber daya manusia, sementara sisanya diarahkan pada program pemberdayaan ekonomi umat yang berpijak pada keadilan ekologis.
Salah satu praktik baik (best practice) yang menarik muncul dalam program pendampingan pertanian hortikultura dan pengembangan peternakan babi di komunitas-komunitas stasi. Dari proses monitoring dan evaluasi (monev) program, lahir sebuah mimpi bersama yang mulai diwujudkan: pengembangan pusat “breeding” ternak babi di dua titik, yakni Kenyalok dan Nangapinoh.
Meski masih sederhana, Kenyalok dan Nangapinoh kini mulai berfungsi sebagai sentrum pengembangan bibit ternak babi yang sehat dan bermutu. Mimpi yang dibangun bersama umat adalah menghadirkan sumber bibit babi yang terjamin asal-usul dan kualitas keturunannya. Dari dua tempat inilah anak-anak babi disiapkan untuk kemudian didistribusikan ke kelompok-kelompok stasi maupun komunitas basis yang mengakses program APP (Aksi Puasa Pembangunan) untuk pengembangan peternakan babi.
Harapan tersebut tidak berhenti sebagai wacana. Pada tahap awal, bibit babi dari Kenyalok sudah mulai disalurkan ke sejumlah kelompok umat untuk dikembangbiakkan. Langkah ini ditempuh tidak hanya untuk menjaga mutu bibit, tetapi juga sebagai upaya pencegahan terhadap risiko kematian massal ternak yang sempat terjadi di wilayah sekitar Sintang pada tahun sebelumnya. Dengan bibit yang lebih terkontrol dan pendampingan yang lebih baik, umat didorong untuk mengelola peternakan babi secara lebih sehat dan berkelanjutan.
Inisiatif serupa juga dikembangkan di Nangapinoh, termasuk melalui pendampingan pastoral oleh Pastor Ubin bersama anak-anak asrama binaannya. Pola pengembangan ternak di Kenyalok menjadi inspirasi bagi komunitas-komunitas lain. Ke depan, Kenyalok dan Nangapinoh diharapkan dapat menjadi pusat penyedia benih atau indukan babi bagi kelompok-kelompok umat di Keuskupan Sintang yang mengakses program APP. Dengan demikian, asal-usul bibit ternak dapat dideteksi, dikontrol, dan ditelusuri secara lebih bertanggung jawab.
Walau bukan peternakan skala besar, upaya di Kenyalok dan Nangapinoh menunjukkan arah yang menjanjikan. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, diharapkan pengembangan peternakan babi berbasis komunitas ini dapat semakin memperkuat pemberdayaan ekonomi umat. Dampak lanjutannya diharapkan menyentuh kesejahteraan keluarga, termasuk kemampuan orangtua untuk menopang pendidikan anak-anak mereka hingga jenjang yang lebih tinggi.
Tak kalah penting, pengembangan peternakan babi di dua sentrum ini juga diarahkan pada prinsip keadilan ekologis. Komunitas yang terlibat dibekali pelatihan khusus untuk mengembangkan pakan ternak berbasis bahan-bahan alami dan ramah lingkungan, mulai dari pakan basah, pakan fermentasi, hingga pakan kering. Dengan pendekatan ini, peternakan tidak hanya berorientasi pada hasil ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan dengan lingkungan hidup.
Mimpi tentang “breeding” ternak babi di Kenyalok dan Nangapinoh memang masih dalam proses bertumbuh. Namun benih harapan sudah ditanam. Dari desa-desa sederhana di Keuskupan Sintang, tumbuh sebuah gerakan kecil yang menyatukan iman, pemberdayaan ekonomi, dan kepedulian ekologis—sebuah langkah konkret merawat “rumah bersama” dari akar rumput.
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.




