Jakarta, 5 November 2025 — “Sinode bukan sekadar peristiwa atau dokumen,” ujar Mgr. Adrianus Sunarko, OFM, membuka refleksinya di hari ketiga Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2025, di Hotel Mercure Convention Center, Jakarta, Rabu (05/11/2025). Di sesi pertama berjudul Gereja Sinodal (Dokumen akhir Sinode 2021-2024) ini Uskup Sunarko menyatakan bahwa sinodalitas adalah modus vivendi et operandi, cara hidup dan cara bekerja Gereja di dunia sekarang ini.
Uskup Pangkalpinang ini menyampaikan refleksi kritis atas perjalanan Sinode Para Uskup 2021–2024 dan relevansinya bagi Gereja Katolik di Indonesia yang kini menapaki 100 tahun kedua keberadaannya.
Dalam paparannya, Uskup menegaskan bahwa Sinode 2021–2024 bukanlah kegiatan elit Gereja di Roma, melainkan proses yang berakar di komunitas-komunitas umat. “Sinode dimulai dari konsultasi di tingkat keuskupan, lalu dirangkum oleh KWI, dilanjutkan ke tingkat kontinental di FABC, dan akhirnya berujung pada Sidang Sinode Universal 2023 dan 2024 di Vatikan,” jelasnya.
Ia menegaskan, karena sinode tumbuh dari pengalaman Gereja-gereja lokal di seluruh dunia, maka tidak mengherankan jika banyak isi Dokumen Akhir Sinode merefleksikan kehidupan Gereja di Indonesia. “Dokumen ini mengakui bahwa sinodalitas sudah menjadi bagian dari pengalaman banyak komunitas kita. Sekaligus ia menyarankan jalur yang mesti diikuti, praktik yang mesti diterapkan, dan cakrawala yang mesti dijelajahi,” kutipnya dari Dokumen Akhir artikel 5.
Sinode 2021–2024, tambahnya, merupakan kelanjutan konkret dari semangat Konsili Vatikan II. “Sinode memanfaatkan energi benih Konsili Vatikan II dan mengembangkan potensinya — mempraktikkan ajaran tentang Gereja sebagai Umat Allah yang dipanggil menuju kekudusan melalui pertobatan terus-menerus dan pendengaran akan Injil,” paparnya.
Komunio, Partisipasi, dan Misi: Fondasi Gereja Sinodal
Mgr. Sunarko menegaskan bahwa Gereja Sinodal dibangun di atas tiga fondasi besar: communio, partisipasi, dan misi. “Communio menjadi syarat bagi kredibilitas pewartaan Gereja,” katanya. “Namun pembangunan dan pembaruan communio itu harus selalu berorientasi pada misi. Maka, dalam rangka membangun communio dan melaksanakan misi itu, partisipasi semua anggota umat Allah sangat diperlukan.”
Dalam struktur Gereja, kata Mgr. Sunarko, sinodalitas dihidupi dalam dua wujud: sebagai gaya hidup Gereja, komunitas yang mendengarkan Sabda, merayakan Ekaristi, berdialog, membangun persaudaraan, dan melaksanakan discernment bersama; sebagai struktur dan proses eklesial, melalui berbagai dewan partisipatif di paroki, keuskupan, dan tingkat nasional.
“Sinode bukan sekadar sidang atau rapat,” tegasnya. “Ia adalah proses berjalan bersama seluruh umat Allah — awam, religius, imam, dan uskup — yang masing-masing berperan sesuai karisma dan tanggung jawabnya.”
Subjek Gereja: Seluruh Umat Allah
Menurut Mgr. Sunarko, subjek Gereja Sinodal adalah seluruh umat Allah yang disatukan oleh rahmat sakramental. “Dasarnya adalah baptisan, yang menjadikan setiap orang ambil bagian dalam relasi Yesus dengan Allah Tritunggal, memiliki martabat setara, dan berbagi dalam peran profetis Kristus,” ujarnya.
Ia menambahkan, sakramen krisma memperkuat umat untuk menjadi saksi Injil, dan Ekaristi menjadi contoh nyata sinodalitas — karena di dalamnya ada partisipasi semua umat beriman, peran sejumlah pelayan, dan kepemimpinan imam atau uskup. “Dalam Ekaristi, sinodalitas hidup secara konkret: semua terlibat, dengan tanggung jawab yang berbeda namun saling melengkapi.”
Mgr. Sunarko mengutip Paus Fransiskus: “Sinodalitas adalah kerangka paling tepat untuk memaknai pelayanan hierarki.” Hierarki bukan dominasi, melainkan pelayanan yang memelihara persatuan dan kesetiaan pada misi Kristus.
Communio: Relasi dan Saling Berbagi
Dalam Dokumen Akhir, communio digambarkan sebagai jejaring relasi yang kompleks: dengan Allah Tritunggal, antarumat Allah, antara umat dan hierarki, antar-Gereja lokal, serta dengan masyarakat, agama lain, dan seluruh ciptaan. “Pada masa ketika terjadi perubahan besar dalam memaknai ‘tempat’ Gereja, kita perlu mengembangkan bentuk-bentuk baru saling berbagi anugerah dan jaringan ikatan yang menyatukan kita,” ujarnya, mengutip FD 109.
Ia menambahkan bahwa communio bukan keseragaman, melainkan kesatuan dalam keberagaman yang hidup. “Kesatuan Gereja tidak berarti keseragaman, tetapi peleburan organis dari keragaman yang legitim,” katanya, mengutip Yohanes Paulus II.
Yesus Kristus, lanjutnya, menjadi teladan utama kepemimpinan sinodal: mendengarkan, berdialog, tidak menghakimi, mengampuni, dan melayani. “Spiritualitas sinodal mengandung unsur pertobatan, penyembuhan, dan rekonsiliasi,” ungkapnya, menyinggung ibadat tobat yang mengawali sidang sinode di Roma 2024.
Mgr. Sunarko juga menekankan pentingnya penghargaan terhadap peran perempuan dalam Gereja. “Gereja Sinodal harus menghidupi relasi yang menghormati kesetaraan martabat dan saling melengkapi antara laki-laki dan perempuan,” ujarnya.
Ia menyerukan agar bahasa, kisah, dan dokumen Gereja lebih banyak menampilkan teolog, mistikus, dan orang kudus perempuan, serta memberi ruang bagi perempuan dalam pewartaan dan refleksi iman.
Discernment dan Akuntabilitas: Ciri Gereja Sinodal
Menurut Mgr. Sunarko, Gereja yang sungguh sinodal bukan hanya mendengarkan, tetapi juga melakukan discernment eklesial — pembedaan roh bersama. “Discernment bukan teknik organisasi, tetapi praktik spiritual yang didasarkan pada iman yang hidup. Ia menuntut kebebasan batin, kerendahan hati, doa, keterbukaan, dan saling percaya,” katanya, mengutip FD 80.
Ia menjelaskan bahwa setiap orang diundang untuk berbagi suara hati, dan dalam proses itu Gereja berusaha mengenali apa yang Roh Kudus kehendaki bagi Gereja-gereja. “Proses discernment itu menuntut partisipasi seluas mungkin, terutama dari mereka yang biasanya tidak diperhitungkan,” katanya.
Mgr. Sunarko juga menyoroti keseimbangan antara otoritas dan partisipasi. “Dalam Gereja Sinodal, otoritas uskup dan Paus tidak boleh diabaikan, karena berakar dalam struktur Gereja yang didirikan Kristus. Namun, pelaksanaan otoritas itu bukan tanpa batas — mereka tidak boleh mengabaikan buah konsultasi tanpa alasan yang kuat dan harus dijelaskan secara memadai,” kutipnya dari FD 91. Ia menambahkan, “Tidak adanya transparansi dan akuntabilitas justru memperkuat klerikalisme.”
Gereja Sinodal, kata Mgr. Sunarko, juga diukur dari kemampuannya untuk exchange of gifts — saling berbagi anugerah antara Gereja lokal dan universal. “Jalan bersama kita sebagai murid-murid Yesus, dengan berbagai karisma dan pelayanan, adalah tanda efektif kasih dan belas kasih Allah dalam Kristus,” katanya.
Ia menekankan pentingnya solidaritas yang nyata di antara Gereja-gereja lokal tanpa paternalisme, demi penyembuhan luka-luka masa lalu dan rekonsiliasi antarbangsa.
Misi: Gereja yang Pergi Keluar
Mgr. Sunarko menegaskan bahwa Gereja Sinodal tidak boleh berpusat pada diri sendiri, tetapi harus “keluar” untuk melaksanakan misi. “Komunitas-komunitas Gereja harus melihat diri mereka bukan hanya untuk kegiatan internal, tetapi mengabdi bagi misi umat beriman di masyarakat, keluarga, dan dunia kerja,” tegasnya, mengutip FD 59.
Ia menyoroti konteks misi masa kini: urbanisasi, mobilitas kaum migran, serta budaya digital yang membentuk cara baru berkomunikasi dan beriman. “Budaya digital, khususnya di kalangan muda, mengubah cara orang mengalami ruang dan waktu. Karena itu, Gereja lokal perlu mendampingi mereka yang berkarya di dunia digital,” katanya.
Mgr. Sunarko juga menegaskan perlunya membangun budaya safeguarding — menjadikan Gereja tempat yang aman bagi anak-anak dan orang rentan.
Sinodalitas: Kesaksian Profetis Gereja
Dalam dunia yang diwarnai kesenjangan sosial, kekecewaan pada demokrasi, dan meningkatnya otoritarianisme, Mgr. Sunarko melihat sinodalitas sebagai kesaksian kenabian Gereja. “Jika dipraktikkan dengan kerendahan hati, gaya sinodal memampukan Gereja menjadi suara kenabian di dunia masa kini,” katanya, mengutip Paus Fransiskus. “Sinodalitas memberi inspirasi bagi jalan-jalan baru dalam dunia politik dan ekonomi, dengan semangat dialog, solidaritas, dan persaudaraan.”
Mgr. Sunarko juga menegaskan bahwa perjalanan sinode belum selesai. Setelah Sidang Sinode 2024, sepuluh kelompok ahli sedang mendalami topik-topik penting seperti relasi Gereja Timur dan Latin, peran orang miskin, misi digital, pelayanan khusus, serta kemungkinan diakon perempuan. Hasil akhir dari pembahasan ini dijadwalkan dipublikasikan pada Desember 2025.
Tahap implementasi sinode, tambahnya, telah dimulai sejak Juli 2025 dan akan berlangsung hingga 2028, dengan evaluasi di berbagai tingkat Gereja. “Jalan untuk bergerak maju bukan dengan menghapus perbedaan, melainkan membiarkan Roh Kudus memurnikan dan menyatukan kita dalam harmoni,” katanya, mengutip homili Paus Leo XIV pada Yubileum Tim Sinodal 2025.
Menutup refleksinya, Mgr. Sunarko mengajak seluruh umat untuk menghidupi semangat sinodal dalam keseharian, bukan hanya dalam forum formal Gereja. “Proses ini belum selesai,” ujarnya. “Kita diajak menghidupi sinodalitas bukan hanya dalam rapat atau sidang, tetapi dalam kehidupan nyata Gereja setiap hari — berjalan bersama sebagai umat Allah, demi communio, partisipasi, dan misi.”

Mantan Jesuit, Pendiri Sesawi.Net, Jurnalis Senior dan Anggota Badan Pengurus Komsos KWI

