KAMIS PEKAN BIASA VIII
Santo Paulus VI
Beato Yosef Kowalski
Beato Joseph Gerard
Beato Elia dari Santo Klemens yang Kudus
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I – 1 Petrus 4:7-13
Jadilah pembagi rahmat Allah yang beraneka ragam.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus:
Saudara-saudara terkasih, kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kalian dapat berdoa. Tetapi yang terutama ialah kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Hendaknya saling memberi tumpangan tanpa bersungut-sungut.
Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika seseorang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan sabda Allah; Jika ada seorang melayani,
baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Dialah yang memiliki kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.
Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kalian heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atasmu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kalian dapat dalam penderitaan Kristus. Dengan demikian kalian juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan – Mazmur 96:10.11-12.13; Refren:13b
Tuhan datang menghakimi bumi.
- Katakanlah di antara bangsa-bangsa: “Tuhan itu Raja! Dunia ditegakkan-Nya, tidak akan goyah. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.”
- Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai, biarlah gemuruh laut serta segala isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang ada di atasnya, dan segala pohon di hutan bersorak-sorai.
- Biarlah mereka bersukacita di hadapan Tuhan, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.
Bait Pengantar Injil – Yohanes 15:16
Aku telah memilih kalian dari dunia, agar kalian pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap.
Bacaan Injil – Markus 11:11-26
Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. Percayalah kepada Allah!
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Pada waktu Yesus tiba di Yerusalem, Ia masuk ke Bait Allah, dan meninjau semuanya. Tetapi karena hari sudah hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.
Keesokan harinya, sesudah mereka itu meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Maka kata Yesus kepada pohon itu, “Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!” Ucapan itu terdengar pula oleh para murid.
Maka Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah masuk ke Bait Allah, mulailah Yesus mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, dan Ia tidak mengijinkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kalian ini telah menjadikannya sarang penyamun!”
Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu. Maka mereka berusaha untuk membinasakan Yesus. Tetapi mereka takut kepada-Nya, sebab mereka melihat orang banyak takjub akan pengajaran-Nya. Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.
Pagi-pagi Yesus dan murid-murid-Nya lewat, dan melihat bahwa pohon ara itu sudah kering sampai ke akar-akarnya. Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.”
Yesus menjawab mereka, “Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung itu, ‘Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut,’ maka hal itu akan terjadi, asal ia tidak bimbang hati, tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi. Karena itu Aku berkata kepadamu, apa saja yang kalian minta dan doakan, akan diberikan kepadamu, asal kalian percayalah bahwa kalian akan menerimanya.
Dan jika kalian berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” Tetapi jika kalian tidak mengampuni, maka Bapamu yang di surga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Bacaan hari ini mengajak kita untuk merenungkan hidup kita di hadapan Tuhan, bukan dengan ketakutan, tetapi dengan kesadaran rohani. Rasul Petrus mengingatkan, “Akhir segala sesuatu sudah dekat.” Ia tidak mengajak panik, melainkan bersiap, “Kuasailah dirimu dan waspadalah supaya kamu dapat berdoa.” Hidup yang sadar akan keterbatasan waktu seharusnya mendorong kita makin sungguh dalam doa, kasih, dan pelayanan. “Utamakanlah kasih,” tulis Petrus, “sebab kasih menutupi banyak dosa.” Di dunia yang gelisah, kasih adalah jawaban – bukan kemarahan, melainkan pengampunan dan kepedulian.
Dalam Injil, Yesus mengecam pohon ara yang berdaun lebat, namun tidak berbuah. Pohon itu menjadi gambaran nyata bagi kita yang mungkin tampak rohani dari luar – aktif dalam kegiatan Gereja, penuh pengetahuan agama – tetapi tidak menghasilkan buah kasih, pertobatan, dan pelayanan yang nyata. Yesus mengingatkan kita bahwa tampilan luar tanpa buah adalah sia-sia. Iman yang sejati harus tercermin dalam tindakan nyata sehari-hari yang membawa perubahan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Hanya dengan hati yang murni dan terbuka, kita mampu menghasilkan buah yang berkenan di hadapan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama.
Ya Tuhan, bentuklah kami menjadi pribadi yang tidak hanya berdaun, tetapi sungguh berbuah dalam kasih dan setia kepada-Mu, amin.

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

