Gereja Katolik Indonesia, SAGKI 2025, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Berjalan Bersama, Peziarah Pengharapan, Sinodalitas, Harmoni Katolik, Katolik Indonesia, Obor media, Komsos KWI, Dokpen KWI, Mirifica, Net , Berjalan Bersama Umat Lintas Agama, Keuskupan di Indonesia

JAKARTA, – Dalam gelaran iman yang berlangsung setiap lima tahun sekali yang dikenal sebagai Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI), beberapa kali dibicarakan tentang kebersamaan bersama umat lintas agama. Misalnya, dalam SAGKI 2010 umat Katolik diajak untuk keluar dari tempurungnya dan menjumpai saudara dan saudarinya dari agama dan kepercayaan lain.

Demikian juga, salah satu pokok penting dalam SAGKI 2025 ini adalah sharing pengalaman dalam berjalan bersama umat lintas agama. Dengan demikian, diharapkan bahwa melalui pengalaman ini Gereja semakin mampu mewujudkan hidup bersama yang harmonis, rukun, dan damai di tengah berbagai macam persoalan kebangsaan dan geopolitik yang terjadi saat ini.

Untuk menegaskan pengalaman berjalan bersama dengan umat lintas agama dalam kaitannya dengan tema SAGKI 2025, Rm. Aloysius Budi Purnomo Pr, Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) KWI, berkenan menuturkan kesaksian dan pengalamannya sebagai berikut.

Semua Diutus Menjadi Pembawa Damai

Seperti diketahui, SAGKI merupakan forum pertemuan yang penting bagi perkembangan Gereja Katolik Indonesia untuk menegaskan kembali tugas perutusan Gereja sebagai terang dan garam di tengah dunia dengan membahas tema-tema tertentu yang relevan dan kontekstual. Dalam SAGKI 2025 ini tema besar yang dipilih adalah “Berjalan Bersama sebagai Peziarah Pengharapan: Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian.” “Sesuai tema tersebut, SAGKI memiliki peran penting dalam mewujudkan perutusan Gereja Katolik Indonesia sebagai pembawa perdamaian bagi dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya,” ujar Rama Budi.

Untuk dapat mewujudkan perdamaian tersebut, Gereja Katolik tidak bisa berjalan sendirian, melainkan perlu berjalan bersama (sinodal), baik secara internal di antara semua anggota Gereja maupun secara eksternal di antara semua orang yang berkehendak baik, apa pun agama dan kepercayaannya. Dalam hal inilah peran penting SAGKI mendapatkan konteksnya. Bersama semua umat beragama baik secara ekumenis maupun secara interreligius, perutusan Gereja sebagai pembawa damai dijalankan bersama dengan semua orang tanpa membedakan-bedakan.

Sayangnya, tugas perutusan bersama sebagai umat manusia di bumi ini untuk menciptakan keharmonisan, kerukunan dan perdamaian senantiasa mendapat tantangan dari masa ke masa. Misi Gereja untuk membawa damai bagi bangsa dan masyarakat pun juga memiliki tantangannya tersendiri. 

“Saat ini, harus diakui dengan jujur bahwa secara umum, bangsa kita sedang tidak baik-baik saja. Terjadinya letupan-letupan sporadis bernuansa kriminal-intoleran, perilaku destruktif yang merugikan publik, ketidak-pekaan elite politik kekuasaan, dan berbagai gejala sosial ekonomi yang tidak adil membutuhkan perdamaian dan keadilan,” ungkap aktivis dialog antaragama sekaligus lingkungan hidup ini.

Dibutuhkan sinergi dan kerja sama dengan berbagai pihak

Meskipun demikian, menurut pengalaman Rama Budi, di tingkat akar rumput di segala sudut negeri ini hidup rukun dan damai selalu diutamakan. Sejak menjalani perutusan barunya sebagai Sekretaris Komisi HAK KWI per Januari 2025, Rama Budi sudah berkeliling, berkunjung, dan berkoordinasi dengan Ketua-Ketua Komisi HAK Keuskupan di 19 Keuskupan dan para Sahabat Lintasagama di 24 Kota/Kabupaten dari Sumatera hingga Papua. Dalam perjalanan kunjungan tersebut Rama Budi mengalami kehidupan yang rukun dan damai.

Di tempat-tempat tersebut Gereja lokal hadir membawa damai melalui Komisi HAK Keuskupan dalam kerja sama sinergis dengan Pemerintah setempat, Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Lintas-agama yang menjadi garda terdepan untuk menjaga kedamaian dan keharmonisan; juga bersama Ormas-ormas lainnya (FKUB, WKRI, PMKRI), Komunitas-Komunitas (THS, THM, OMK, Gusdurian, Gerakan Perempuan Bercadar Garis Lucu, Pondok Pesantren, dan Persekutuan Ekumenis).

“Di sana saya melihat dan mengalami sinergi yang bagus bahkan istimewa dalam perspektif moderasi beragama dan implementasi kurikulum cinta yang terinspirasi oleh Ensiklik Laudato Si’, Fratelli Tutti, Dokumen Abu Dhabi, serta Deklarasi Istiqlal,” demikian kesaksian salah satu tokoh kerukunan beragama di Jawa tengah ini.

Menemukan, Mensyukuri dan Mewartakan Best Practises di Setiap Keuskupan

Agar dapat mewujudkan perdamaian, Gereja perlu keluar dari dirinya sendiri, menjumpai para penganut agama dan kepercayaan lain, sebagaimana yang diperlihatkan dan diajarkan oleh Yesus sendiri yang berani terbuka dan mengambil inisiatif untuk menyeberangi batas-batas agama-budaya (bdk. Yoh 4).  Di situ Gereja mampu menemukan nilai-nilai injili yang dihidupi oleh para penganut agama dan kepercayaan lain.

Gereja perlu menemukan contoh-contoh baik di tiap-tiap daerah atau keuskupan yang mampu menciptakan keharmonisan dan perdamaian. Gereja tidak boleh terjebak hanya pada kasus-kasus kriminal-intoleran sesaat, namun melupakan banyak hal baik yang terjadi di daerah-daerah. Tiap-tiap daerah memiliki best practicesnya yang harus ditemukan, disyukuri dan bahkan diwartakan agar hidup damai dan harmonis makin berkembang di Indonesia dan di seluruh bumi.

“Saya ambil contoh hidup damai di Tanjungpinang dan Sekupang, Keuskupan Pangkalpinang dengan masyarakat yang multikultural. Sinergi dengan FKUB dan Pondok Pesantren Al-Kautsar serta Komunitas PCNU di Tanjungpinang dan Sekupang sangat indah karena keberagaman dianggap sebagai kekayaan dan kekuatan untuk membangun daerah. Sementara di Labuan Bajo terdapat Festival Golo Koe yang merupakan wadah dialog antarbudaya dan antariman yang memperkuat identitas Labuan Bajo sebagai tempat bersemainya nilai-nilai toleransi. Festival juga menjadi berkat untuk masyarakat melalui berkembangnya UMKM,” papar Rama Budhenk, panggilan akrabnya.

“Ada lagi Yubileum Seniman Lintasagama di Surabaya yang bertujuan agar para seniman dapat mengekspresikan karya-karya mereka sesuai hati nurani. Selain itu, di Malang ada Kampung Kerukunan yang indah yang dibentuk untuk merawat kebersamaan dan kolaborasi semua warganya tanpa membeda-bedakan, tanpa sekat-sekat. Sementara itu di Ambon, kekuatan adat menjadi hal penting untuk menjaga kerukunan dalam sinergi dengan Gereja Katolik dan Kristen serta Islam. Itu hanya beberapa contoh saja yang bisa saya sebutkan. Jangan sampai kita tergoda hanya melihat letupan-letupan kriminal-intoleran sesaat namun melupakan banyak hal baik yang terjadi di daerah-daerah. Justru best practises yang sudah ada di daerah-daerah ini perlu makin kita gaungkan,” tegasnya.

Penggagas Sonjoku (Silaturahmi Obrolan Jejaring Ormas Keagamaan Kulon Progo) ini sungguh bersyukur boleh melihat, mengalami, dan menimba inspirasi dari semua best practices Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) di 19 Keuskupan se-Indonesia dalam beberapa bulan pada masa awal perutusannya di KWI. Semua itu mendapat peneguhan pula dari tema SAGKI 2025. Misi dan dialog berjalan seiring untuk mewujudkan perdamaian dan peradaban kasih bagi bangsa Indonesia maupun dunia.

Gereja Berjalan Bersama dengan Semua Orang dan Seluruh Makhluk Ciptaan

Semua contoh best practises di atas menjadi cerminan moderasi beragama dalam komitmen kebangsaan yang menjunjung tinggi keragaman, toleransi yang menghargai perbedaan keyakinan, serta penerimaan dan akomodasi terhadap kekayaan budaya dan tradisi yang ada di dalam masyarakat Indonesia yang multikultural. Hal ini perlu terus dipromosikan, baik di tingkat nasional maupun lokal sehingga sungguh-sungguh tercipta tata kehidupan bersama yang harmonis, rukun, tentram, damai dan saling memajukan.

Ada empat dasar, menurut Rama Budi, untuk terciptanya gerak sinodalitas bersama semua orang dan seluruh ciptaan:  

Pertama, dalam gerak sinodalitas ini Gereja dipanggil dan diutus untuk berjalan bersama umat dan masyarakat. Menurut penggagas berbagai komunitas dan gerakan lintas agama ini, keterbukaan untuk berjalan bersama (sinodalitas) ini didasarkan pada spirit Gaudium et Spes.  Sebab, “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka.” (GS 1).

Kedua, Gereja dipanggil dan diutus untuk berjalan bersama dalam spirit Ensiklik Laudato Si’. Dengan spirit tersebut, Gereja berjalan bersama dengan semua orang dan seluruh makhluk ciptaan, dengan sesama dan semesta. Manusia terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD) serta bumi, rumah kita bersama, sedang menjerit karena penderitaan dan krisis ekologi (bdk. LS 2).

“Maka, perdamaian juga harus diperjuangkan melalui praksis ekologis. Gereja memiliki misi sebagai eco-Church, Gereja yang ramah dan peduli lingkungan demi menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup,” tandasnya.

Ketiga, Gereja yang misioner demi perdamaian dihadirkan dalam spirit ensiklik Fratelli Tutti, bahwa kita semua bersaudara tanpa diskriminasi. Melalui spirit tersebut, moderasi hidup keagamaan semakin dihadirkan melalui sikap bersaudara dengan semua orang yang inklusif, sikap yang menghargai semua orang tanpa kecuali. “Marilah kita bermimpi sebagai satu umat manusia, sebagai sesama pengembara yang memiliki raga manusiawi yang sama, sebagai anak-anak dari bumi yang sama yang menjadi tempat tinggal kita semua, masing-masing dengan kekayaan iman dan keyakinannya, masing-masing dengan suaranya sendiri, semuanya saudara dan saudari.” (FT 8)\

Keempat, Gereja Indonesia juga mendapatkan warisan istimewa berupa Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Istiqlal yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nasaruddin Umar. Gereja bersama-sama dengan umat beragama lain dipanggil dan diutus untuk merespons terjadinya dehumanisasi dan degradasi lingkungan. Nilai-nilai agama masing-masing harus diarahkan untuk mempromosikan budaya rasa hormat, martabat, kasih sayang, rekonsiliasi, dan solidaritas persaudaraan untuk mengatasi dehumanisasi dan kerusakan lingkungan.

Berjalan Bersama Umat Lintas Agama: Dapat Terwujud dengan Kelima Sila Pancasila

Gereja bersama masyarakat perlu membangun sikap saling menghormati dan menghargai keyakinan orang lain, sehingga tidak ada pihak yang merasa dinomorduakan atau dikecualikan. Gereja mengembangkan kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik yang berasal dari pelbagai agama dan kepercayaan karena Allah telah menciptakan seluruh manusia yang setara dalam hak, kewajiban, dan martabat, dan telah memanggil kita semua untuk hidup berdampingan sebagai saudara dan saudari, untuk memenuhi bumi dan untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan, cinta, dan kedamaian (bdk. FT 285).

Di Indonesia, semua orang memiliki iman yang sama, yakni beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang berbeda adalah agama.  “Kendati berbeda agama kita disatukan dalam iman yang sama kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan sebutan yang khas sesuai agama masing-masing,” ujar Rama Budi.

Sila pertama, “Ketuhanan yang Maha Esa”, mencerminkan komitmen kebangsaan untuk menghargai keragaman agama dan kepercayaan. “Dalam keberagaman itulah kita bisa berjalan bersama mewujudkan kesejahteraan, keadilan, kerukunan, keharmonisan, persatuan, perdamaian, persaudaraan sejati, dan peradaban kasih ekologis. Sesuai Pancasila, berdasarkan sikap iman pada Tuhan Yang Maha Esa, Gereja Katolik bersama semua warga bangsa Indonesia, apa pun agama dan kepercayaannya, dapat mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, sikap bermusyawarah dalam hikmat kebijaksanaan demi mufakat yang bermartabat seraya menghargai perbedaan, demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Rama Budi.