Jakarta, 29 Oktober 2025 — “Berjalan bersama sebagai Peziarah Pengharapan,” demikian tema besar Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 yang akan digelar pada 3–7 November 2025 di Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta. Melalui pertemuan ini, Gereja Katolik Indonesia menegaskan tekad untuk semakin menjadi Gereja yang sinodal, misioner, dan pembawa damai di tengah bangsa.
Konferensi pers pembuka SAGKI 2025 pada Selasa (29/10) menghadirkan Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC (Ketua KWI), Romo Paulus Christian Siswantoko, Pr (Sekretaris Eksekutif KWI sekaligus Ketua Pengarah SAGKI 2025), dan Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX (Ketua Panitia SAGKI 2025). Dalam penjelasannya, Mgr. Antonius menegaskan bahwa SAGKI merupakan forum lima tahunan yang mempertemukan seluruh unsur Gereja – uskup, imam, biarawan-biarawati, dan awam – untuk merefleksikan peran Gereja di tengah berbagai keprihatinan bangsa.
“Sidang ini adalah momentum pertobatan pastoral dan personal. Kita ingin menghadirkan Gereja yang rendah hati, terbuka, dan penuh kasih; bukan Gereja yang menonjolkan kekuasaan, tetapi persaudaraan,” tegas Mgr. Antonius.
Makna Sinodalitas: Suara Setara di Tengah Keberagaman
Tahun 2025 menjadi istimewa karena menandai SAGKI ke-5 sejak pertama kali diadakan tahun 2000. Setelah absen di tahun 2020 akibat pandemi, pertemuan kali ini akan dihadiri 374 peserta dari 38 keuskupan teritorial dan 1 keuskupan TNI-Polri, termasuk 41 uskup aktif dan emeritus.
Mgr. Antonius menegaskan, semangat sinodalitas berarti setiap peserta – entah uskup, imam, maupun awam – memiliki hak bicara yang setara. “Dalam SAGKI nanti, suara seorang muda berusia 22 tahun memiliki bobot yang sama dengan suara seorang kardinal senior,” ujarnya. Sinodalitas menjadi tanda kesetaraan, keterbukaan, dan penghargaan terhadap suara umat sebagai satu tubuh Kristus.
Membangun Jembatan, Membawa Damai
SAGKI 2025 hadir dalam konteks dunia yang penuh gejolak dan bangsa yang menghadapi tantangan sosial seperti kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial, intoleransi, dan kekerasan. Menanggapi hal ini, Mgr. Antonius mengutip pesan Paus Leo XIV, “Damai sejahtera bagi kalian semua,” sebagai ajakan universal bagi Gereja untuk membangun jembatan dialog lintas agama, budaya, dan kelompok sosial.
“Kita tidak bisa membawa damai kalau di dalam Gereja sendiri tidak ada damai. Sinodalitas harus menjadi hidup, bukan hanya slogan,” ungkapnya.
Mgr. Antonius juga menyoroti isu Papua dan lingkungan hidup, yang muncul dalam sesi tanya jawab. Ia menegaskan bahwa SAGKI membuka ruang bagi semua keuskupan untuk menyuarakan keprihatinan masing-masing tanpa batasan tema. “Tokoh utama dalam SAGKI bukanlah kami para pemimpin, melainkan Roh Kudus,” ucapnya, menekankan keterbukaan hati peserta untuk mendengarkan suara sesama dan suara Tuhan

Logo dan Spiritualitas Peziarah Pengharapan
Romo Paulus Christian Siswantoko menjelaskan makna logo SAGKI 2025: figur manusia yang berjalan bersama melambangkan seluruh umat Allah dalam ziarah iman. Warna-warna yang digunakan memiliki arti mendalam: Merah: semangat kemartiran dan pengorbanan, Kuning: iman yang menjadi pegangan, Hijau: pengharapan yang menumbuhkan kehidupan, Biru: perdamaian sebagai tujuan akhir perjalanan.
“Gabungan warna ini menggambarkan dinamika iman, harapan, dan kasih yang menuntun Gereja untuk menjadi pembawa damai,” jelas Romo Paulus.
Gereja yang Hidup, Gereja yang Mendengarkan
Dalam kesempatan yang sama, Romo Alfons Widhiwiryawan menambahkan bahwa SAGKI 2025 bertepatan dengan 60 tahun penutupan Konsili Vatikan II, tonggak sejarah Gereja modern yang menegaskan pentingnya peran umat awam. Ia menegaskan bahwa semangat kolegialitas dan partisipasi umat kini dilanjutkan melalui proses sinodal.
“Panitia SAGKI terdiri dari 105 orang dari berbagai keuskupan. Kami ingin memastikan semangat berjalan bersama bukan hanya slogan, tetapi nyata dalam cara kami bekerja,” ungkap Romo Alfons.
Ia juga menjelaskan bahwa sidang akan melibatkan sharing pengalaman dari berbagai kelompok – orang muda, lansia, penyandang disabilitas, aktivis lingkungan, hingga tokoh lintas agama – untuk memperkaya refleksi bersama. Pemerintah, ormas Katolik, dan perwakilan Vatikan juga dijadwalkan hadir pada pembukaan sidang.
Isu Sosial: Dari Papua hingga KDRT

Dalam sesi tanya jawab, berbagai isu sosial mengemuka: Papua, intoleransi, kemiskinan, lingkungan, hingga kekerasan anak dan KDRT. Mgr. Antonius menegaskan bahwa Gereja Katolik tidak menutup mata terhadap persoalan ini. “Kita punya Komisi Keadilan dan Perdamaian serta Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan yang aktif di lapangan. Gereja harus hadir, bukan hanya berbicara,” tegasnya.
Ia menambahkan, perjuangan konkret Gereja selama ini telah terwujud dalam bentuk pendampingan sosial, pembangunan shelter, hingga kerja sama lintas agama. “Gereja itu milik semua umat. Kita dipanggil untuk membawa harapan, bukan hanya bagi diri sendiri, tapi bagi seluruh masyarakat,” tutupnya.
Menjadi Dokumen yang Hidup
Di akhir konferensi pers, Mgr. Antonius menekankan bahwa hasil sidang bukan hanya berupa dokumen tertulis, tetapi “dokumen yang hidup”, yakni para peserta sendiri yang akan kembali ke keuskupan masing-masing membawa semangat dan hasil refleksi SAGKI.
“Setiap peserta diutus menjadi pembawa damai, peneguh harapan, dan wajah Gereja yang misioner di tengah dunia,” ujarnya menutup sesi konferensi pers.
SAGKI 2025 bukan sekadar pertemuan internal Gereja, tetapi sebuah gerakan spiritual untuk menghidupkan kembali semangat Bhinneka Tunggal Ika – berjalan bersama dalam perbedaan demi terwujudnya Kerajaan Allah yang damai, adil, dan penuh harapan di bumi Indonesia.

Freelance, Contributor for Dokpen KWI

