Gereja: Komunitas Iman yang Solid, Sinodal, dan Solider
JAKARTA – Kata-kata Paus Fransiskus dalam bulla Spes non Confundit kiranya perlu ditegaskan kembali, “Dalam hati setiap orang, harapan bersemayam sebagai keinginan dan harapan akan hal-hal baik yang akan datang, meskipun kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan” (SnC, 1). Paus menyerukan umat beriman untuk menghidupkan kembali pengharapan, terutama di tengah situasi sulit di setiap zaman.
Di tengah derasnya arus global dan tantangan zaman dewasa ini, Gereja diajak untuk memaknai kembali harapan tersebut. Di balik perjumpaan iman yang akan digelar dalam SAGKI 2025, terselip pertanyaan mendasar: sejauh mana harapan ini terus bergema di dalam hati orang beriman, terutama dalam sepuluh tahun ke depan?
Terkait dengan pertanyaan tersebut di atas, muncul suara dari Kalimantan Utara yang berbatasan dengan Malaysia. Uskup Keuskupan Tanjung Selor, Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF menyampaikan harapan-harapannya terhadap Gereja untuk sepuluh tahun mendatang.
Soliditas yang terjalin dalam sinodalitas dan solidaritas
Untuk terus menghidupkan harapan di tengah situasi dan kondisi geopolitik dan kebangsaan kita akhir-akhir ini, menurut Uskup Yan Olla MSF, ada dua aspek utama yang perlu diperhatikan, yakni aspek eksternal dan aspek internal. Aspek pertama adalah aspek eksternal, yaitu Gereja dalam strukturnya sendiri serta identitasnya sebagai paguyuban orang beriman hadir di tengah masyarakat. Aspek kedua adalah aspek internal di mana Gereja diingatkan oleh sinode para uskup baru-baru ini akan sinodalitas Gereja dalam gerak solidaritas bersama seluruh komunitas Gereja.
Menurutnya, dalam mengikuti dinamika geopolitik dan kebangsaan, Gereja tetap berpegang pada prinsip seperti tertuang dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes artikel 1, “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.”
Suka dan duka yang dialami dunia juga menjadi suka duka Gereja karena Gereja adalah bagian integral dari apa pun yang dialami oleh umat manusia di dunia ini. “Yang di dalam zaman kita hal ini dirangkum oleh Paus Fransiskus dengan baik dalam ensiklik Fratelli Tutti. Gereja merajut persaudaraan atas dasar kemanusiaan dan nilai-nilai bersama yang positif,” jelas doktor Teologi Spiritualitas dari Universitas Teresianum, Roma.
Aspek kedua adalah aspek internal di mana Gereja diingatkan oleh sinode para uskup yang baru saja berakhir bahwa dalam gerak sinodalitas bersama komunitas Gereja, dalam sepuluh tahun ke depan kita akan melihat apa artinya berjalan bersama.
“Dalam perjalanan bersama kita mengikuti Yesus Kristus, dan kebersamaan itu muncul dalam beragam bentuknya. Hal ini ditunjukkan antara lain dalam soliditas di dalam iman. Kita adalah umat Katolik yang memiliki iman yang sama yang diikat dengan solidaritas. Maka, Gereja ke depan diharapkan tidak menjadi atom-atom yang bergulir sendiri-sendiri di tingkat keuskupan, paroki bahkan sampai komunitas basis gerejawi yang terkecil. Kita harus menampakkan solidaritas yang sama, yakni mengikuti Yesus dengan melanjutkan pewartaan-Nya yang sekarang menjadi tugas Gereja. Jadi, ada unsur kesatuan dan solidaritas di dalam peziarahan yang kita jalani bersama ini,” ungkap Uskup Yan Olla.
Ditambahkannya bahwa kedua unsur tersebut perlu terus diwujudkan hingga sepuluh tahun ke depan dan seterusnya. Ini dimaksudkan supaya keuskupan-keuskupan tidak tertutup pada dirinya sendiri, tetapi melihat apa yang terjadi di seluruh Indonesia maupun secara global. Selain itu, paroki-paroki juga memiliki dinamika sedemikian rupa sehingga tidak tertutup ke dalam lingkup batas-batas teritorial atau kategorialnya sendiri, tetapi tetap memiliki solidaritas dengan yang lainnya.

“Akhirnya, gerak bersama atau sinodalitas dalam solidaritas tersebut berpuncak pada communio yang terwujud dalam komunitas umat beriman. Berjalan bersama dalam Gereja menuntut keterlibatan aktif dan partisipatif dari seluruh anggota Gereja – uskup, imam, awam – yang menghidupi misi Gereja. Sinodalitas ini melahirkan solidaritas bagi mereka yang membutuhkan dan akhirnya bermuara pada persekutuan yang menjadi ungkapan nyata dari dinamika kebersamaan tersebut. Pada akhirnya, semuanya disatukan sebagai communion of communities, hakikat Gereja sebagai persekutuan (komunitas) orang-orang beriman yang bersatu dalam Kristus,” tandas mantan Sekretaris Jenderal MSF ini.
Iman sebagai sumber optimisme menghadapi aneka situasi
Selanjutnya dikatakannya bahwa sebagai Gereja optimisme muncul dari iman. Di dalam ajaran Katolik, iman adalah sumber optimisme karena ia memberikan dasar untuk pengharapan dan keyakinan pada hal-hal yang tidak terlihat (bdk. Ibr 11:1). Iman mendorong umat beriman untuk melihat dunia melalui “kacamata iman”, yang mencakup melihat nilai dan martabat dalam setiap ciptaan, menumbuhkan kasih, dan berorientasi pada tujuan akhir yang lebih besar.
“Sebagaimana kita hayati selama tahun yubileum, iman berakar pada janji dan tindakan Allah yang lebih dulu mengasihi kita. Karena Dia mengasihi kita maka dalam segala situasi yang kita alami, maupun ketika berhadapan dengan pahit dan getir pengalaman hidup dan semua kesulitan, pengharapan kita tidak pernah padam karena kita tahu bahwa ada yang menjadi titik pengharapan kita yang sudah dijaminkan kepada kita, yaitu bahwa Allah tetap mengasihi kita dalam situasi apa pun hidup kita,” ungkapnya.
Gereja tidak akan tidak hadir dalam situasi gelap tanpa jalan keluar, tanpa jawaban, karena ia melihat Allah selalu mengasihi dan kasih-Nya tidak pernah mengecewakan seperti dihayati selama dalam tahun yubilem. Pengharapan tidak berakhir dengan berakhirnya tahun yubelium ini.
“Pengharapan tetap menjadi ciri Gereja yang dalam perjalanan sejarahnya sudah melampaui masa-masa sulit dan gelap, yang tampaknya seperti tidak berpengharapan. Namun, kita memiliki inspirasi-inspirasi iman dan keutamaan-keutamaan teologal (iman, harapan, dan kasih) di mana dasarnya adalah unsur kasih Allah yang lebih dulu mengasihi kita sehingga harapan kita pun tidak pernah menemui jalan buntu karena di sana ada kasih Allah yang menyertai kita, apa pun situasi hidup kita,” lanjutnya.
Ini berarti bahwa umat Katolik memiliki keyakinan yang kuat terhadap janji-janji Allah, bahkan ketika situasi yang terjadi tampak suram atau bahkan tanpa jalan keluar. Dengan keyakinan tersebut, umat didorong untuk bekerja sama dengan semua pihak agar dunia menjadi lebih baik, meskipun saat ini dunia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
“Dalam situasi kebangsaan dan geopolitik yang kita alami sekarang ini, jangan hanya dianggap sebagai urusan orang Katolik saja, tetapi ini merupakan masalah kemanusiaan bersama. Di balik situasi suram itu Gereja hadir dan bergerak bersama semua orang yang berkehendak baik sehingga dapat bersinergi untuk mengatasi bersama-sama permasalahan itu atau situasi tanpa harapan tersebut. Gereja ambil bagian di dalamnya dan ikut berjalan dalam kesulitan itu, serta berupaya mengatasinya bersama dengan orang-orang lain. Misalnya dalam konteks Tanjung Selor, soal kerusakan alam tidak bisa diatasi oleh Gereja sendiri sebagai kelompok sosial masyarakat karena masalahnya jauh lebih besar dari situasi Gereja sendiri. Maka, hal itu harus diatasi secara bersama-sama dengan umat atau pihak-pihak terkait lainnya,” jelas mantan dosen STFT Widya Sasana.
Mewujudkan Harapan: Langkah-Langkah Internal dan Eksternal
Untuk mewujudkan harapan tersebut, Gereja tidak bisa berjalan sendiri tetapi membutuhkan sinergi dari banyak pihak yang berkehendak baik. Dijelaskannya bahwa secara internal terdapat visi dan misi keuskupan yang ditetapkan secara periodik dengan melihat arah dasar pastoral keuskupan. Dengan demikian, dapat dipetakan hal-hal yang perlu didalami dan membutuhkan tindakan strategis. Kehadiran Gereja bukan hanya sebatas ritus-ritus lahiriah, yang ditampilkan dalam bentuk birokratisasi, melainkan harus terdapat kualitas iman yang berkembang di sana.
Di tingkat keuskupan Mgr. Yan Olla MSF mengajukan dua contoh yang sudah dilakukan, baik secara internal dan eksternal Keuskupan Tanjung Selor. “Dalam konteks Keuskupan Tanjung Selor, perhatian tidak diarahkan kepada pembangunan infrastruktur, tetapi difokuskan kepada pendalaman iman umat mulai dari tingkat dasar. Di sini ditekankan kualitas iman dan kualitas manusia. Maka, sejak anak-anak perlu diberikan katekese dasar, selain pendidikan dasar. Kualitas iman mulai ditumbuhkan di sana,” tandasnya.

Selain itu, sejak tahun 2019 Keuskupan Tanjung Selor membuat Tahun Solidaritas Misi yang dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran misioner dan solidaritas pada umat. Tahun Solidaritas Misi dirayakan bertepatan dengan Hari Minggu Misi Sedunia. Intensi dasarnya adalah membantu animasi misi di keuskupan melalui kirab salib. Salib diarak dan ditempatkan dari stasi ke stasi di paroki yang terpilih selama setahun dan dikembalikan ke paroki pada penutupan Tahun Solidaritas Misi, untuk kemudian diserahkan kepada paroki lain yang terpilih untuk menjadi tempat perayaan Tahun Solidaritas Misi selanjutnya.
“Di dalamnya ditumbuhkan kesadaran misioner. Tujuan sejatinya adalah robohnya sekat-sekat paroki; sekat-sekat yang membedakan paroki kaya dan miskin dibongkar. Ditumbuhkan solidaritas dari semua paroki lewat doa bersama sekeuskupan dan kontribusi konkret yang diserahkan kepada paroki yang menjadi tempat perayaan. Selama setahun itu, juga diadakan bakti sosial, pelayanan-pelayanan sosial, pemeliharaan alam/lingkungan dengan penanaman pohon, dan kegiatan-kegiatan lainnya,” jelas Mgr. Yan Olla MSF.
Sementara untuk gerak keluar Keuskupan Tanjung Selor bersinergi dengan pemerintah dan kelompok-kelompok agama, dengan tetap menjaga prinsip bahwa yang diperjuangkan Gereja adalah membangun kerja sama positif untuk berdinamika bersama menuju kehidupan yang lebih baik, adil dan sejahtera.
“Tahun Solidaritas Misi memang pertama-tama merupakan suatu kegiatan rohani, tetapi yang menumbuhkan solidaritas dari berbagai pihak, terutama dengan melibatkan banyak pihak, termasuk pemerintah dan semua kalangan di luar Gereja Katolik. Di situ masyarakat melihat bahwa Gereja memiliki gerakan nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Seperti kita ketahui bersama, masyarakat di Kalimantan Utara terdiri dari berbagai suku dan daerah. Namun, masih banyak masyarakat di pedalaman yang masih miskin dan terbelakang. Maka, Tahun Solidaritas Misi ini juga menjadi momen kerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat umum, yang ikut ambil bagian dalam aneka kegiatan sosial yang dilakukan. Bahkan, sebagian dari mereka terjun langsung untuk mendukung kegiatan tersebut.
Dengan gerak bersama ke dalam dan keluar, ungkap Uskup Tanjung Selor, diharapkan dapat berkembang suatu Gereja yang beriman, bersatu, bersolider serta berbagi berkat bagi umatnya sendiri maupun bagi mereka yang membutuhkan. Hal ini selaras dengan imbauan Paus Leo XIV dalam Seruan Apostolik Dilexi Te bahwa kasih Allah berpihak kepada yang miskin dan hina, dan Gereja dipanggil untuk menjadikan solidaritas sebagai jantung misinya.

Freelance, Contributor for Dokpen KWI

