Komsos KAE, Keuskupan Agung Ende, Pelatihan Kmsos KWI - Ende, Gereja Katolik Ende, RD Petrus Noegroho Agoeng Sriwidodo, RBE Agung Nugroho, Komsos Paroki , RD Carlo Guru, Pelatihan Jurnalistik Komsos Mataloko, Komsos KWI

MIRIFICA.NET-MATALOKO – Memasuki hari kedua, Kamis, 5 Februari 2026, intensitas pelatihan jurnalisme dan media sosial bagi utusan paroki se-Keuskupan Agung Ende (KAE) semakin meningkat. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Susun Seminari Mataloko ini berfokus pada sinkronisasi visi pastoral Keuskupan dengan keterampilan teknis produksi konten modern.

Sinkronisasi Renstra KAE dan Gerakan Ramah Anak

Hari kedua dibuka dengan Misa pagi yang dipimpin oleh RD Emilianus Deru. Usai Misa, agenda langsung masuk ke sesi diskusi kelompok yang dipandu oleh moderator RD Safan Rengu dan fasilitator Mas R.B.E. Agung Nugroho.

Sebanyak 72 peserta dibagi ke dalam 10 kelompok untuk membedah Rencana Strategis (Renstra) KAE 2022-2027. Tugas utamanya adalah menerjemahkan nilai-nilai mandat Keuskupan—seperti Solidaritas, Keadilan, dan Martabat—ke dalam pesan kreatif bertema “Gerakan Ramah Anak”.

Beberapa topik menarik yang dipresentasikan oleh kelompok antara lain:

  • Gereja sebagai Rumah Aman: menggagas peran KUB dalam menciptakan lingkungan ramah anak.
  • Tantangan Zaman: menyoroti isu krusial seperti bahaya gawai bagi anak usia dini dan maraknya kasus bunuh diri di kalangan remaja.
  • Aksi Nyata: membagikan kisah inspiratif aksi kasih Misdinar Paroki MBC Bajawa untuk anak-anak KUB.

Tata Kelola Media dan “Content is King

Sesi siang menghadirkan narasumber dari Komsos KWI, Mas Samuel Krismanto yang memaparkan materi strategis mengenai Tata Kelola Media Sosial. Ia menekankan bahwa admin media sosial paroki harus memiliki manajemen yang rapi, mulai dari perencanaan konten, pembuatan draf, hingga evaluasi interaksi.

Mas Samuel Krismanto (Koomsos KWI) Foto: Komsos KAE

“Konten adalah raja. Kita harus tahu siapa audiens kita. Konten untuk OMK tentu berbeda dengan konten untuk lansia. Untuk anak muda harus tren dan interaktif, sementara untuk lansia harus fokus pada devosi yang mudah diakses,” jelas Mas Kris.

Beliau juga membagikan rahasia konten viral melalui prinsip Clickbait yang etis, penggunaan thumbnail yang ekspresif, serta pemanfaatan Golden Time (waktu terbaik unggah) berdasarkan analisis data.

Adaptasi Teknologi AI dan Teknik Sinematografi

Salah satu sesi yang paling mencuri perhatian adalah pengenalan alat bantu Artificial Intelligence (AI). Peserta diajarkan menggunakan tools seperti ChatGPT, Gemini, dan Canva untuk mempercepat proses brainstorming ide serta meningkatkan kualitas visual.

Meski teknologi berkembang pesat, Mas Kris mengingatkan peserta untuk tetap menguasai teknik dasar produksi manual, seperti:

  • Etika Dokumentasi Gereja: Larangan penggunaan lampu kilat (flash) saat ibadat agar tidak mengganggu kesakralan.
  • Teknik Sinematografi: Penguasaan angle kamera (dari Extreme Shot hingga OTS), pengaturan Rule of Thirds, serta pentingnya mengunci fokus secara manual.
  • Audio: Penggunaan mikrofon eksternal sebagai kunci utama kualitas video yang profesional.
Foto: Komsos KAE

Tantangan Produksi Akhir

Sebagai bentuk implementasi ilmu, setiap kelompok ditantang untuk memproduksi tiga karya besar yang akan dipresentasikan pada hari terakhir: Video Feature durasi 2-4 menit (Landscape), Infografis Edukatif maksimal 6  lembar; Video Reels/Shorts untuk media sosial.

Semangat kreativitas para peserta terus berkobar demi mewujudkan pewartaan yang semakin relevan dan menjangkau seluruh umat di era digital.