MIRIFICA.NET-DENPASAR – Tim Biro Nasional Karya Misioner Kepausan Indonesia (KMKI) diundang oleh KMKI Diosesan (Keuskupan) Denpasar untuk menjadi fasilitator/narasumber dalam giat Pembekalan Calon Animator/Animatris (Pendamping) Sekami Remaja.
Dari Biro Nasional KMKI, hadir antara lain Direktur Nasional (Dirnas) RP. Alfonsus Widhiwiryawan, SX bersama tim yang terdiri dari RP. Petrus Maman Suparman, OSC, Kristofora Wiwi Daruwika Dewi, dan Marshanda Veronica Vanessa.
Kegiatan itu diikuti 118 orang Calon Pendamping Sekami Remaja dari paroki-paroki di Keuskupan Denpasar (Bali dan NTB). Pembekalan dilaksanakan di Catholic Center Denpasar, 6 – 8 Februari 2026.
KMKI Keuskupan Denpasar dalam refleksinya menyadari bahwa Pendampingan remaja Katolik sudah menjadi fokus perhatian Gereja, tidak hanya di Keuskupan Denpasar, tetapi terjadi di banyak keuskupan di Indonesia. Dalam Raker KMKI Regio Nusra di Denpasar, Oktober 2025 lalu, cukup serius membicarakan pendampingan kaum remaja ini.
Selama ini, memang sudah ada wadah Sekami yang sangat aktif dalam pembinaan iman anak-anak, dan sebagian remaja tergabung dalam wadah Sekami.
Namun, ada juga sebagian besar yang kebingungan ketika masuk usia remaja (antara 12-15 tahun) atau setelah komuni pertama. Mau bertahan di Sekami ada perasaan ‘malu’ karena merasa tidak anak-anak lagi, mau bergabung di OMK juga masih ‘enggan’, karena merasa masih kecil.
Kondisi tersebut, mendorong Gereja untuk membuka ruang pendampingan khusus bagi remaja, terpisah dari anak-anak Sekami. Sehingga pola pembinaannya akan dibedakan, sebab problematika yang dihadapi remaja biasanya lebih kompleks dari usia anak-anak, sehingga pendekatannya harus menyesuaikan usia mereka.
Dengan demikian, para calon Animator Sekami remaja perlu disiapkan untuk memahami siapa nantinya yang akan mereka dampingi. Dalam konteks itulah pembekalan bagi para calon pendamping Sekami Remaja ini penting dilaksanakan.
Para calon pendamping Sekami Remaja yang menjadi peserta kegiatan ini, sebagian besar adalah mereka yang aktif dalam pendampingan Sekami di paroki masing-masing, bahkan mereka juga telah mengikuti SOMA (School of Missionary Animators) yang dilaksanakan KMKI Keuskupan Denpasar selama ini.
Berbeda dengan SOMA yang biasa dilaksanakan, kali ini mereka dibekali khusus untuk menjadi pendamping bagi Sekami Remaja yang akan dijadikan wadah tersendiri khususnya dalam pembinaan iman dan kepribadiannya.
Pembekalan calon Animator Sekami Remaja Keuskupan Denpasar ini dibuka dengan perayaan Ekaristi (misa) yang dipimpin Uskup Denpasar Mgr. DR. Silvester San. Didamping 6 orang imam konselebrasi, antara lain RD. Herman Yoseph Babey (Vikjen dan Dirdios KMKI Keuskupan Denpasar), RP. Alfonsus Widhiwiryawan, SX (Dirnas KMKI), RP. Maman, OSC (Tim KMKI Nasional), RD. Agustinus Sugiyarto (Sekretaris Uskup Denpasar), RD. Iwan Karwayu dan RD. Hyoga. Kedua imam terakhir bersama RD. Julius Kehi ikut menjadi peserta pembekalan.
Bapak Uskup, di sela homili mengharapkan agar kegiatan ini berjalan dengan baik dan sungguh bermafaat bagi karya Pastoral di Keuskupan Denpasar terutama pastoral pendampingan remaja.
Dirdios KMKI Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph, dalam pembukaan acara itu, “Pembekalan ini terlaksana atas keprihatinan kita (Gereja), di mana banyak remaja setelah komuni pertama langsung hilang dari Sekami, mereka malu untuk ke Sekami lagi dan ke OMK belum saatnya.”

Dirdios KMKI Denpasar juga memberi informasi bahwa sesuai kesepakatan bersama KMKI Regio Nusra, rencananya akan dilaksanakan TSoM (Teens School of Mission) tingkat regio. Untuk tempat dan waktunya akan dibahas dalam Raker KMKI Regio Nusra di Sumba, Oktober 2026.
Hal senada dikatakan Dirnas KMKI RP. Alonsus Widhiwiryawan, SX. “Anak-anak remaja seringkali kehilangan orientasi karena belum terwadahi dengan baik. Prioritas pendampingan kita (KMKI) adalah mulai anak-anak sampai usia 15 tahun (remaja),” ungkap Dirnas KMKI.
Uskup: Remaja dan Iman yang Hidup
Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San, juga menyapa peserta lewat sebuah pengarahan. Menurut Mgr. San, remaja Katolik masa kini hidup di tengah dunia yang bergerak sangat cepat, ditandai oleh perkembangan teknologi digital, media sosial, dan arus informasi yang nyaris tanpa batas.
“Di satu sisi, mereka memiliki akses luas pada pengetahuan, kreativitas, dan jejaring pertemanan. Namun di sisi lain, iman sering kali menjadi sesuatu yang “opsional”, bukan lagi menjadi pusat hidup. Banyak remaja tetap berstatus Katolik, tetapi praktik iman seperti doa pribadi, Ekaristi, dan keterlibatan dalam kegiatan Gereja mulai berkurang dan terasa sekedar kewajiban, bukan kebutuhan batin,” ungkap Mgr. San.
Remaja, lanjut Uskup, akrab dengan budaya instan, pengakuan lewat “like” dan “follower”, serta standar kebahagiaan yang diukur dari popularitas dan pencapaian lahiriah. Tidak sedikit remaja yang merasa kehidupan iman dan menggereja kurang relevan dengan pergumulan konkret mereka: soal pertemanan, cinta, tekanan akademik, keluarga, dan masa depan. Akibatnya, iman sering berhenti pada tataran pengetahuan, belum sungguh dihayati sebagai relasi pribadi dengan Kristus.
Meski demikian, lanjut Mgr. San, realitas itu juga menyimpan harapan. Banyak remaja Katolik sebenarnya rindu akan makna hidup, kejujuran, penerimaan, dan komunitas yang aman. Mereka tertarik pada iman yang hidup, yang menyentuh realitas mereka, memberi ruang dialog, dan menghadirkan teladan yang nyata.

Ketika pola pndampingan dilakukan dengan cara yang tepat, terbuka, dan relevan, remaja mampu menunjukkan semangat, kepedulian sosial, serta keberanian untuk bersaksi dengan caranya sendiri.
Uskup berharap agar para calon pendamping Sekami Remaja, setelah mendapat pembekalan akan dimampukan menjadi pendamping remaja yang mumpuni. “Mari kita hantar para remaja Katolik memiliki iman yang tangguh, setia pada Kristus, serta menjadi tanda harapan bagi dunia,” pungkas Mgr. San.
Selanjutnya waktu sepenuhnyan diserahkan kepada Tim KMKI Nasional. Dimulai dari penjelasan Tata Kelola KMKI oleh Dirnas KMKI dan pengantar Formasi Misioner Remaja oleh RP. Petrus Maman Suparman, OSC, selaku Tim KMKI Nasional yang juga Dirdios KMKI Keuskupan Bandung.
Pada sesi berikutnya, hari kedua dan ketiga para peserta di bagi dalam tiga kelompok besar dan berada pada ruangan masing-masing yang disebut Ruang Laboratorium Misi.
Pada putaran pertama, peserta mendapatkan materi tentang Refleksi TSom dengan fasilitator RP. Maman, Psikologi Remaja oleh Kristofora Wiwi Daruwika Dewi), dan Jurnalistik Medsos bersama fasilitator Marshanda Veronica Vanessa. Setiap dua jam peserta bergerak ke ruang laboratorium misi berbeda, sedangakan fasilitator tetap di tempat.
Putaran kedua, dengan pola yang sama, peserta mendapatkan materi pembekalan: Praktek/simulasi pendampingan TSom, Dinamika TSom Family dan Video konten refleksi. Proses pembekalan diakhiri perayaan Ekaristi dan acara penutupan.

Hironimus Adil
Team Komsos Keuskupan Denpasar
Jurnalis dan Editor Majalah Agape
Sekretaris Komisi Kepemudaan Keuskupan Denpasar
Editor portal www.keuskupandenpasar.net

