Mirifica.net – Pada tanggal 18 Januari 2026, Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia mengadakan Doa Ekumenis dengan Nyanyian dari Komunitas Taizé (The Ecumenical Prayer with Songs form Taizé Community) di Aula Henry Soetio Gedung KWI Jakarta. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 200 umat yang berasal dari berbagai paroki, kelompok doa, organisasi, dan instansi yang tersebar di area Jakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen.
Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen atau Week of Prayer for Christian Unity yang umumnya dilaksanakan secara rutin di tanggal 18-25 Januari lahir melalui kerja sama antara Dikasteri untuk mempromosikan Persatuan Umat Kristiani dan Komisi Faith and Order Dewan Gereja-Gereja Dunia. Pada tahun ini, narasi dan susunan tata ibadah untuk Pekan Doa disiapkan oleh kelompok kerja umat beriman dari Gereja Apostolik Armenia bersama saudara-saudari dari Gereja Katolik Armenia dan Gereja Evangelis. Tema besar yang diusung pada tahun ini dikutip dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus pada pasal 4 ayat 4, yakni “Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu.”

Sebagai jembatan rekonsiliasi antar denominasi, doa ekumenis tahun ini disusun seperti model doa yang biasa dilakukan oleh komunitas biarawan di sebuah desa kecil di Prancis bernama Taizé. Nyanyian yang diulang berkali-kali dalam keheningan menjadi bagian penting untuk membantu umat menyelami dan memaknai tema doa tersebut. Hadir, terlibat, dan memberi berkat dalam doa ini beberapa pemimpin gereja yaitu RD F. Kristi Adi Prasetya (Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI), RD Aloysius Budi Purnomo (Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI), RP. James Spillane SJ (Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta), Pdt. Lenta E. Simbolon (Sekum PGI – HKI), Pdt. Florian Simatupang (GKMI), Pdt Yolanda Pantou (GKI), Pdt. Ester Pudjo Widiasih (GKJ dan dosen STFTJ), Pdt. Natanael Setiadi (GKI), Pdt. Aart Verburg (Protestanse Gemeente Oegstgeest), Pdt. Yonky Karman (Gereja Kristen Setia Indonesia), Pdt. Mercy Anna Saragih (GKPS), dan Pdt. Arlene GKMI serta beberapa suster dan frater dari komunitas seperti CB, SJMJ, Ursulin, Projo Jakarta, Xaverian, dan SDB.

Dalam sesi renungan, RD Aloysius Budi Purnomo merefleksikan tema besar dari doa tahun ini dengan mengartikan Gereja sebagai Tubuh Kristus dengan Kristus sendiri menjadi sang kepala, dan kita, apapun denominasinya, adalah bagian dari anggota tubuhnya. Masing-masing dari anggota tubuh ini saling berkesinambungan dan memiliki fungsinya sendiri. Semua Gereja dipanggil untuk saling mendukung, menopang, dan memperkaya sebagai saksi Kristus untuk membawa terang di tengah perselisihan dunia.
Di tengah ibadah, diadakan Prosesi Salib diiringi lagu Jésus le Christ (Yesus, TerangMu Pelita Hatiku) sebagai simbol permohonan agar mampu berjalan bersama dalam persatuan meskipun berasal dari latar gereja yang berbeda. Di akhir sesi kegiatan, RD F. Kristi Adi Prasetya juga mengaksentuasikan ulang harapannya, bahwa kita sebaiknya tidak menyandera Kristus di dalam diri kita. Kita harus punya sense of Christ and sense of crisis, kepekaan dan kemauan untuk berbuat baik, berbagi kasih dan damai kepada orang-orang di sekitar kita. Ini adalah panggilan untuk mengingat identitas umat kristiani, yaitu “Light from Light for Light”, pelita untuk saling belajar, berdoa, dan bersaksi bersama. *Anastasi Novi/Komkep KWI
***
Gallery




Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

