Suara Orang Muda Katolik: Harapan Generasi Baru untuk Gereja
Menjelang SAGKI 2025 yang akan digelar pada 3–7 November mendatang dengan semangat sinodalitas: berjalan bersama, suara OMK (Orang Muda Katolik) menjadi refleksi penting agar Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia tak menjadi sekadar agenda institusional, melainkan momentum nyata bagi Gereja untuk membuka diri, mendengar, dan berjalan bersama umat di semua generasi, khususnya orang muda.
Dalam berbagai forum di keuskupan dan wilayah, para orang muda turut dilibatkan dalam proses konsultasi (listening session), sesuai prinsip dasar proses sinodal: mendengarkan, dialog, dan keputusan bersama.
Di dokumen tentang “Hal-hal penting dari ‘Dokumen Persiapan’ Sinode” yang ditulis oleh Monsinyur Adrianus Sunarko OFM ditekankan bahwa gereja sinodal adalah Gereja yang misioner, yang bergerak keluar (ecclesia exiens), dan “pintu-pintunya terbuka” (EG 46).
Bagi OMK, hal ini menjadi panggilan: tidak sekadar jadi bagian dekoratif acara, tetapi benar-benar menjadi subjek perjalanan Gereja yang mendengarkan dan berbicara. Namun sayangnya, ruang partisipasi orang muda seringkali masih terbatas.
“Gereja belum 100% membuka ruang untuk orang muda, baik berpendapat maupun berkegiatan. Memang semuanya butuh proses, namun orang muda juga perlu diberi ruang untuk memimpin,” tutur Fransisca Saras, penyanyi dan sekaligus OMK yang aktif sebagai pemazmur.
Dengan semangat itu, orang muda berharap bahwa partisipasi tidak hanya sekedar formalitas, namun lebih bersifat substantif. Mereka butuh ruang dalam pengambilan keputusan pastoral, bukan hanya sekadar “wakil undangan”.
Kreativitas Digital sebagai Medan Sinodal Baru
Orang muda Katolik saat ini hidup dalam ruang digital: media sosial, konten kreatif, podcast, kanal visual – ini bukan dunia asing, melainkan “ruang hidup” mereka. Jika Gereja hendak berjalan bersama mereka, maka medium ini harus menjadi arena nyata dialog, pewartaan, dan partisipasi.
Wandy Murti, seorang Content Creator Katolik, pemilik akun ‘Suka Sembayang’ menyampaikan, bahwa saat ini Gereja sudah sangat mengikuti perkembangan zaman. “Banyak gerakan-gerakan pewartaan yang inovatif sampai di level sinodal. Baik di level media social, AI, dan perkembangan digital lainnya selalu diimbangi gereja Katolik,” ungkapnya.
Tentu, tambah Wandy, masih ada kekurangan karena banyak penyesuaian yang harus dilakukan agar pewartaan tetap relevan dengan pokok iman yang diwartakan. “Meskipun banyak yang harus dibenahi, gereja tidak berhenti belajar akan hal ini,” ujar Wanndy.
Dalam konteks sinode, ruang ini dapat menjadi “saluran konsultasi digital” – ruang agar suara orang muda bisa menjangkau wilayah dan konteks yang berbeda. Mereka berharap Gereja menggunakan media sosial bukan hanya sekadar sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai ruang dialog, dengan konten yang interaktif, ketersediaan live-session diskusi iman, Q&A, atau forum digital bersama umat muda dari berbagai daerah.
Harapan Orang Muda: Gereja yang Terbuka dan Relevan
Proses SAGKI dan pra-SAGKI adalah perjalanan mendengarkan (listening), dialog, dan mengambil keputusan bersama, baik di tingkat lokal maupun nasional. Harapannya, Gereja harus berani berubah, berani berjalan bersama orang muda dalam realitas zaman ini. Gereja diharapkan tidak hanya hadir sebagai institusi yang sakral, tetapi juga sebagai ruang hidup yang menumbuhkan iman dan harapan. Bagi mereka, sinodalitas berarti keterlibatan nyata, bukan simbolik, dalam pengambilan keputusan pastoral dan arah misi Gereja.
Orang muda ingin Gereja menanggapi kehidupan digital mereka secara serius. Media sosial, konten kreatif, dan ruang digital bukan sekadar hiburan, tetapi medan baru untuk pewartaan dan dialog iman. Banyak komunitas OMK mulai memanfaatkan platform digital untuk berbagi refleksi Injil, kisah iman, dan aksi sosial. Namun, mereka berharap dukungan dan pendampingan dari Gereja agar karya ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Gereja diundang untuk tidak takut berinovasi: mengadakan forum digital interaktif, diskusi iman daring, dan pendampingan online yang menjangkau mereka yang sulit hadir secara fisik di paroki.

“Gereja harus jujur dan berani melakukan kritik diri. Tidak sekedar mengevaluasi namun juga mampu beradaptasi, bertahan dan relevan, sehingga tetap menjasdi sumber inspirasi,’ terang Lilik.
Lebih jauh, harapan orang muda mencakup keadilan sosial, inklusivitas, dan keberpihakan pada mereka yang lemah. Mereka ingin melihat Gereja yang tidak hanya berkotbah tentang kasih, tetapi juga bertindak nyata: mendampingi yang miskin, memperjuangkan keadilan ekologis, dan membuka ruang bagi mereka yang berbeda.
Dari Aspirasi Menuju Aksi
Menjelang SAGKI 2025, refleksi dan suara orang muda menjadi tantangan bagi Gereja: apakah Gereja sungguh mendengar dan menindaklanjuti suara mereka, atau hanya memasukkannya sebagai wacana. Bagaimana Gereja tidak hanya menjadi pendengar yang baik, tetapi juga bisa menjadi sahabat sepeziarahan. Semangat sinodal – berjalan bersama, mendengarkan semua suara, membuka ruang dialog – harus menjadi fondasi nyata dalam seluruh tahapan sidang.
Gereja yang berjalan bersama orang muda bukanlah Gereja yang sempurna, tetapi Gereja yang terus belajar, berani mawas diri, dan tidak takut untuk memperbarui cara berpastoralnya. “Gereja harus berani menghancurkan untuk membangun kembali,” demikian pesan Lilik. Pembaruan itu dimulai dari mendengarkan – bukan sekadar secara struktural, tetapi dengan hati.
SAGKI 2025 menjadi kesempatan emas bagi Gereja Indonesia untuk meneguhkan kembali jati dirinya: Gereja yang terbuka, yang hadir, dan yang mau berjalan bersama generasi muda menghadapi tantangan zaman. Sebab hanya Gereja yang mendengarkan akan mampu menumbuhkan iman yang hidup. Dan hanya Gereja yang berjalan bersama kaum muda akan tetap muda, di mata Allah dan di tengah dunia.

Freelance, Contributor for Dokpen KWI

