SABTU PEKAN BIASA VIII
Beato Baptista Varani
Beato Marta Wieka
Beato Yakobus Filipus Bertonius
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I – Yudas 17:20b-25
Allah berkuasa menjaga kalian jangan sampai tersandung, dan membawa kalian penuh kegembiraan di hadapan kemuliann-Nya.
Bacaan dari Surat Rasul Yudas:
Saudara-saudara terkasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepadamu, oleh rasul-rasul Tuhan kita Yesus Kristus.
Maka bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci, dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu dalam kasih Allah
sambil menantikan rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, renggutlah mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai rasa takut kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.
Allah berkuasa menjaga kalian supaya jangan tersandung. Ia membawa kalian tanpa noda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya.
Bagi Dia, Allah yang Esa, Juruselamat kita, dengan perantaraan Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa
sebelum segala abad, sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan – Mazmur 63:2.3-4.5-6; Refren:2b
Jiwaku haus akan Dikau, ya Tuhan, Allahku.
- Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus akan Dikau, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, yang tiada berair.
- Demikianlah aku rindu memandang-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup; bibirku akan memegahkan Dikau.
- Aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Seperti dijamu lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, bibirku bersorak-sorai, mulutku memuji-muji.
Bait Pengantar Injil – Kolose 3:16a.17c
Semoga sabda Kristus tinggal dalam diri kalian secara melimpah. Bersyukurlah dengan perantaraan Kristus kepada Allah Bapa kita.
Bacaan Injil – Markus 11:27-33
Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Beberapa waktu sesudah mengusir para pedagang dari halaman bait Allah, Yesus dan murid-murid-Nya tiba kembali di Yerusalem. Ketika Yesus sedang berjalan-jalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Mereka bertanya kepada Yesus, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?”
Yesus menjawab mereka, “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepada kalian. Jawablah Aku, dan Aku akan mengatakan, dengan kuasa mana Kulakukan hal-hal itu. Pembaptisan Yohanes itu dari surga atau dari manusia? Jawablah!”
Mereka memperbincangkannya seraya berkata, “Jikalau kita katakan ‘Dari Allah,’ Ia akan berkata, ‘Kalau begitu, mengapakah kalian tidak percaya kepada-Nya?’ Tetapi masakan kita katakan ‘Dari manusia’.” Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Maka mereka menjawab Yesus, “Kami tidak tahu.”
Maka kata Yesus kepada mereka, “Jika demikian, Aku pun takkan mengatakan kepada kalian, dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
ita sering kali terjebak dalam pola pikir yang menolak perubahan. Tak jarang kita enggan melangkah keluar dari zona nyaman, memilih bertahan dalam hal-hal yang familiar, meskipun itu justru membatasi pertumbuhan iman kita. Dalam Injil hari ini, para imam kepala menantang Yesus dengan pertanyaan, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan ini?” Sayangnya, pertanyaan itu tidak lahir dari hati yang tulus untuk mencari kebenaran, tetapi dari hati yang tertutup oleh ketakutan. Mereka takut kehilangan posisi, kuasa, dan pengaruh jika mengakui otoritas Yesus yang sejati.
Tanggapan Yesus menjadi ajakan bagi kita untuk membuka hati dan membiarkan kuasa-Nya yang membebaskan dan menguatkan bekerja dalam hidup kita. Sebab iman bukanlah warisan pasif yang cukup diterima dan disimpan, melainkan anugerah yang harus dibangun, diuji, dan
diperjuangkan setiap hari. Iman sejati tidak berhenti pada pengetahuan atau rutinitas rohani semata, tetapi bertumbuh dalam kerendahan hati dan kesiapan untuk dipakai Tuhan, bahkan ketika itu berarti memikul salib dan menghadapi risiko. Mari kita terus melangkah dalam iman yang hidup, iman yang berani membuka hati pada karya-Nya yang tak terbatas.
Ya Tuhan, teguhkan iman kami untuk terus bertumbuh, berani melangkah keluar dari zona nyaman, dan setia mengikuti-Mu meskipun harus menanggung salib, amin.

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

