Gereja Menghidupi Semangat Keadilan Sosial dan Ekologis
JAKARTA – Dalam Bulla Spes non Confundit, Paus Fransiskus mengajak umat Katolik untuk tidak kehilangan harapan, meskipun dunia kita ini sering kali diwarnai oleh ketegangan, konflik, dan ketidakpastian. Pengharapan Kristiani berakar di dalam iman dan memampukan orang beriman untuk senantiasa bertekun dalam kasih. Bahkan di dalam situasi penderitaan tidak boleh berputus asa karena Roh Kudus mengaruniakan ketekunan untuk senantiasa berharap.
Melalui kehadiran-Nya yang abadi dalam kehidupan Gereja peziarah, Roh Kudus menerangi semua orang beriman dengan cahaya pengharapan. Dia menjaga terang itu tetap bersinar, seperti pelita yang terus menyala, untuk menopang dan menguatkan kehidupan kita. Pengharapan Kristiani tidak menipu atau mengecewakan karena didasarkan pada kepastian bahwa tidak ada sesuatu pun atau seorang pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah. (3)
Umat Katolik Indonesia dipanggil untuk menjadi sumber pengharapan bagi bangsa ini melalui hidup yang berlandaskan cinta kasih, solidaritas, kerukunan dan perdamaian dengan semua warga bangsa. Dari ujung timur pulau Jawa, Uskup Keuskupan Malang, Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm, serta dari Nusa Tenggara Timur, Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden SVD menyemaikan harapan-harapan mereka terhadap Gereja untuk sepuluh tahun mendatang. Apa saja harapan mereka?
Keadilan Sosial Bagi Semua
Mengingat situasi dan kondisi geopolitik dan kebangsaan kita akhir-akhir ini, Uskup Keuskupan Malang mengingatkan agar di tingkat nasional, KWI mengikuti dari dekat dan secara cermat perkembangan geopolitik di negara kita dan tetap berani untuk menyuarakan kebenaran seperti yang sudah dilakukannya seperti selama ini.
Disampaikannya bahwa KWI juga perlu mengadakan koordinasi yang lebih sering dengan para tokoh Katolik, terutama mereka yang mempunyai posisi penting di dalam pemerintahan atau DPR untuk memperjuangkan terus keadilan sosial. Hal yang sama juga diusahakan di tingkat daerah.
“Kita juga perlu meningkatkan kaderisasi di bidang politik, istimewanya bagi kaum muda karena merekalah yang akan menjadi garda terdepan untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di masa depan demi transformasi politik yang lebih baik di negeri ini. Merekalah penentu masa kini dan masa depan Gereja dan bangsa,” tambahnya.
Sementara itu, Uskup Budi Kleden SVD menandaskan perlunya bangsa Indonesia memiliki kepemimpinan politik yang sungguh memperhatikan keadilan sosial sebagai tujuan keberadaan negara ini. “Dengan demikian, kita tidak terjebak dalam program-program populistis yang tidak dipikirkan secara matang sehingga menimbulkan gejolak politik,” ungkapnya.
Diharapkannya pula supaya Indonesia tetap ditandai oleh kehidupan bersama yang damai dengan semangat kesatuan dalam kebhinekaan. Dengan demikian, bangsa ini tetap sanggup mengelola perbedaan, terutama perbedaan agama, secara baik dan bijaksana, sehingga ruang kebebasan agama dapat terpelihara dengan baik.
Bukan hanya soal kemanusiaan dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik, tetapi bangsa ini juga perlu semakin memperhatikan keadilan ekologis. “Adalah hak alam untuk mendapat perlakuan yang benar. Itu berarti, kita tidak boleh menjadikan alam sekadar sebagai sarana untuk merealisasikan ambisi ekonomis sekelompok orang yang meninggalkan dampak buruk bagi sebagian besar warga,” ungkap mantan Superior Jenderal SVD ini.
Yang tak kalah penting, menurutnya, adalah perhatian terhadap pendidikan. “Pendidikan adalah poin kunci. Saya amat mengharapkan agar pendidikan terus ditingkatkan kualitasnya, semakin merata dan luas jangkauannya, baik dari segi geografis, kelas ekonomi maupun status sebagai sekolah negeri dan sekolah swasta. Pendidikan adalah tanggung jawab negara, karena itu pemerintah perlu memberikan porsi perhatian yang sama kepada sekolah-sekolah swasta seperti kepada sekolah-sekolah negeri,” tandasnya.
Meningkatkan Kekuatan Antarwarga untuk Keadilan Sosial dan Ekologis
Menurut Uskup Pidyarto O.Carm, umat beriman perlu terus mewartakan bahwa Allah itu mahakuasa, Tuan atas sejarah manusia seperti yang selama ini sudah dilakukan oleh Gereja Katolik, terlebih oleh Paus Fransiskus. Allah mampu memberikan yang lebih baik kepada manusia. Maka, pengharapan yang merupakan salah satu keutamaan teologal perlu diwartakan terus-menerus kepada umat Katolik.
Pengharapan ini menjadi semakin lengkap ketika disatukan dengan iman dan kasih. Harapan Kristiani berakar dalam iman dan bersumber pada karya penyelamatan dan penebusan Kristus Tuhan yang senantiasa ditawarkan bagi umat manusia. Alasan mengapa harapan ini bertahan di tengah-tengah pencobaan karena didasarkan pada iman dan dipupuk oleh amal kasih sehingga memampukan kita untuk terus maju dalam kehidupan, dalam ketekunan dan daya tahan melewati penderitaan (bdk. SnC, 3).

Oleh karena itu, membangun harapan Kristiani dapat memperoleh wujudnya secara konkret dalam kesabaran, ketabahan, upaya-upaya kehidupan sekaligus daya tahan melewati penderitaan dan rasa syukur meskipun harus bersusah payah dan bertahan dalam kesengsaraan dan penderitaan.
Sementara itu, menurut Uskup Budi Kleden SVD, ada empat hal yang harus diperjuangkan dan diwujudkan untuk memupuk pengharapan tersebut, yaitu:
Pertama, pilihan menjadikan Kelompok Basis Gerejawi (KBG) atau Kelompok Umat Basis (KUB) sebagai cara menggereja yang otentik perlu semakin menemukan bentuknya yang konkret, sebab untuk menghadapi tantangan nasional dan global, kekuatan lokal antarwarga mesti ditingkatkan.
Kedua, peningkatan kesadaran sosial dan ekologis terutama di kalangan kaum muda. Kelompok-kelompok orang muda Katolik perlu didampingi secara baik dan benar agar menjadi tempat pembelajaran berkeadilan sosial dan berkeadilan ekologis. Dengan demikian, orang muda menyadari bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan tidak hanya bersifat sosial dan ekologis, tetapi lebih kepada memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana manusia seharusnya berinteraksi dengan sesamanya dan alam ciptaan serta terlibat secara aktif dalam melindungi dan merawat ciptaan Tuhan.
Ketiga, pendekatan Gereja yang semakin mengumat untuk mencegah semua bentuk klerikalisme yang dapat melumpuhkan Gereja. Oleh karena itu, hierarki perlu memberi ruang yang lebih besar kepada umat awam untuk membentuk wajah Gereja dengan mengakui peran mereka sebagai rekan kerja, saudara seperjalanan, bukan pelengkap belaka.
Keempat, terus meningkatkan komitmen misioner Gereja, yang tidak hanya memperhatikan kebutuhan internal, tetapi menjangkau keluar. Gereja bergerak ke tengah masyarakat melalui keterlibatannya dalam berbagai persoalan sosial ekologis, dan melalui sharing personalia dengan gereja-gereja lokal di tempat lain di dunia melalui pengiriman para misionaris.
Terus Memperjuangkan Keadilan Sosial dan Keutuhan Ciptaan.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, Gereja tidak bisa berjalan sendiri tetapi perlu berjalan bersama dan bersinergi dengan banyak pihak yang berkehendak baik. Menurut Mgr. Pidyarto O.Carm, di tingkat nasional khususnya di dalam pertemuan-pertemuan KWI, permasalahan geopolitik perlu mendapat perhatian lebih dan dari sana bisa diambil keputusan untuk menentukan sekaligus melaksanakan langkah-langkah bersama.
“Misalnya, KWI bisa berkoordinasi lebih sering dengan para tokoh Katolik, terutama yang mempunyai posisi penting dalam pemerintahan atau DPR untuk memperjuangkan terus-menerus soal-soal keadilan sosial. Komisi Kerasulan Awam KWI dan Keuskupan bisa memainkan peran penting dalam hal ini,” jelasnya.

Hal ini dipertegas lagi oleh Uskup Keuskupan Agung Ende bahwa “Gereja hendaknya terus bersuara dan melobi pemerintah untuk memberi perhatian terhadap dunia pendidikan.” Hal ini senada dengan kepedulian Paus Fransiskus tentang pentingnya pendidikan. Paus Fransiskus memandang pendidikan sebagai alat transformatif untuk menciptakan masyarakat yang lebih damai, inklusif, dan berbelas kasih, serta perlunya menggalakkan pendidikan yang menyatukan perbedaan budaya dan agama melalui dialog.
Sementara itu, di tingkat internal Mgr. Budi Kleden SVD mengajukan usulan untuk melakukan pertemuan evaluasi dan sharing best practices tentang KBG/KUB secara nasional secara berkala setiap tiga tahun. Dengan demikian, dapat dipetakan hal-hal yang perlu didalami dan membutuhkan tindak lanjut yang lebih strategis.
Selain itu, diusulkannya pula untuk membentuk tim inti di tingkat nasional untuk orang-orang muda Katolik. Tim inti ini diharapkan dapat merancang modul-modul untuk peningkatan kesadaran sosial dan ekologis di antara orang muda sendiri. Lewat modul-modul ini orang muda diajak dan dilatih untuk terlibat aktif serta bertanggung jawab terhadap lingkungan, untuk merawat bumi sebagai ‘rumah kita bersama. Orang-orang muda disadarkan bahwa manusia masa sekarang berkepentingan untuk mewariskan planet yang layak huni bagi generasi mendatang.

Freelance, Contributor for Dokpen KWI
