Beranda Jendela Alkitab Harian Renungan Harian, Rabu: 21 November 2018 (Matius 12:46-50)

Renungan Harian, Rabu: 21 November 2018 (Matius 12:46-50)

Hari ini adalah peringatan Santa Perawan Maria Dipersembahkan Kepada Allah, maka saya mengambil renungan dari RU SP Maria, yakni Matius 12:46-50. Berbicara tentang Maria tidak akan pernah ada habisnya, seluruh hidupnya adalah keutamaan yang patut diteladani. Merenungkan bunda Maria adalah inspirasi yang tidak akan pernah ada titik batasnya karena bunda Maria adalah inspirasi itu sendiri.

Membayangkan kata-kata Yesus, “Siapa ibuku?” sebagai manusia, kata-kata ini pasti akan menyakitkan bagi ibu mana saja. Sepertinya Yesus tidak menghormati ibu-Nya yang telah melahirkan-Nya. Namun benarkah demikian? Melalui perikop ini saya semakin mengagumi Yesus yang sungguh-sungguh mengenal ibunya, bunda Maria. Yesus tahu pasti ibunya tidak akan sakit hati karena sang ibunda, yakni Maria adalah teladan iman yang pertama. Bunda Marialah yang pertama-tama melakukan kehendak Allah ketika berkata “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Bunda Maria menyerahkan diri secara total kepada kehendak Allah. Walaupun bunda Maria tidak mengerti akan jalan-jalan Tuhan tetapi bunda Maria percaya dengan sepenuh hati bahwa Tuhan yang akan berkarya dalam seluruh hidupnya. Bunda Maria bukan hanya pendengar sabda, tetapi bunda Maria juga pelaksana sabda paling sempurna. Kesediaanya mengandung dari Roh Kudus bukanlah sebuah tanggung jawab yang tidak mempertaruhkan nyawa, karena bunda Maria bisa saja dilempari batu hingga mati, tetapi  dalam kepercayaan total dan dalam iman yang teguh, bunda Maria tetap percaya pada perlindungan Allah. Sejak bunda Maria mengatakan “Ya” pada rencana Allah, seluruh hidup bunda Maria tidaklah indah dan dipenuhi bintang-bintang kebahagiaan tetapi justru penderitaan. Namun justru dalam semua peristiwa itulah iman bunda Maria sungguh teruji dan tak bercacat. Bunda Maria adalah kesempurnaan iman akan Allah. Hal inilah yang sungguh-sungguh dilihat oleh Yesus, ketika mengatakan “Siapa ibuku? Yesus tahu bahwa ibu-Nya, bunda Maria adalah ibu dari semua keutamaan.

“Siapa ibuku? Pertanyaan ini tidak memerlukan jawaban dari siapapun, karena Yesus tahu, bahwa satu-satunya ibu yang paling sempurna adalah bunda Maria yang telah mengandung dan melahirkan-Nya. Kebanggan terdalam Yesus akan bunda Maria, membuat Yesus menginginkan setiap orang mampu meneladani semua keutamaan bunda Maria.

“Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku, dialah Saudari-Ku……..” Perikop ini juga menyadarkan saya, bahwa terkadang dalam peziarahan hidup ini, ada saat saya berjumpa dengan saudara-saudari seiman yang bahkan ikatan persaudaraan lebih kuat daripada saudara sedarah. Yesus ingin agar manusia selalu ingat bahwa Yesus adalah anak sulung yang memiliki banyak saudara dan saudari, yakni mereka yang selalu bersatu dengan Yesus dalam doa dan bertekun dalam iman. Bersama dengan bunda Maria semoga kita mampu mempersembahkan seluruh hidup kita dalam kehendak Tuhan, semakin mengenal Yesus melalui sabdanya, merenungkannya dan membaginya dengan sesama, dengan demikian, seperti bunda Maria, kitapun dimampukan menjadi orang-orang yang mengandung dan melahirkan cinta bagi Tuhan dan sesama sehingga kita pantas menjadi saudara dan saudari kebanggaan Yesus.

Apakah aku sudah termasuk saudara-saudari Yesus dalam seluruh peziarahan hidup ini?

Bunda Maria ajar aku menjadi rendah hati agar mampu melakukan kehendak Allah dalam hidupku.

Kredit Foto: https://www.google.co.id/