Beranda KWI KOMSOS KWI Ajakan Paus untuk Para Jurnalis : Back to Basic

Ajakan Paus untuk Para Jurnalis : Back to Basic

Gereja Katolik, Gereja Katolik Indonesia, Katekese, Katolik, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Lawan Covid-19, Umat Katolik, Uskup, Uskup dan Pengaku Iman, Yesus Kristus, Paus Fransiskus, Pope Francis, Hari komunikasi Sosial Sedunia ke-55

MIRIFICA.NET – Kemajuan teknologi informasi memungkinkan komunikasi dan akses kapan saja, dimana saja serta dengan siapa saja. Sudah banyak jurnalis yang terhanyut nikmatnya perkembangan digital ini. Pertemuan fisik yang menjadi standar operasi dalam bertugas kerap terabaikan. Jurnalis masa kini makin jauh dari lapangan dan jalanan.

Ketika pertama kali membaca terjemahan Pesan Paus Fransiskus untuk hari Komunikasi Sedunia ke-55 yang diberi judul, “Datang dan Lihatlah”, terus terang saya langsung ingat frasa popular yang dilontarkan Jenderal Romawi, Julius Caesar “Veni, Vidi, Vici” dalam suratnya kepada Senat Romawi.

Frase ini artinya “Saya datang, saya melihat, saya telah menaklukkan.” Sebuah semboyan dalam Bahasa Latin [ Bahasa resmi Kekaisaran Romawi] ini digunakan Sang Konsul untuk menggambarkan kemenangannya dalam peperangan melawan Pharnaces II dari Pontus dalam pertempuran di Zela pada 47 SM [sebelum Masehi].

Meski konteksnya sangat lain dengan yang dimaksud Paus Fransiskus, namun makna penting yang terkandung di dalamnya sedikit mirip. Di Zaman Romawi, Seorang Jenderal tak akan diakui kehebatannya kalau dia tidak ikut maju perang, masuk ke medan laga, menghadapi musuh dan ikut bertempur.

Dan ketika kemenangan demi kemenangan didapat, saat pulang ke negerinya kembali, seluruh warga negeri Romawi akan menyambutnya dengan sambutan meriah. Bunga-bunga, wangi-wangian, daun-daun dilambai-lambaikan, kain dipasang di sepanjang jalan, iring-iringan tentara, tetabuhan musik serta pemberian mahkota daun menjadi seremoni yang membanggakan. Inilah pengakuan atas kehebatan Sang Jenderal .

Back to Basic

Seorang Jenderal Romawi tidak diakui kehebatannya hanya dengan duduk, tinggal di markas dan menyuruh para bawahannya untuk maju perang. Dia harus terjun ke lapangan, medan laga dan ikut berdarah-darah.

Kebanggaan yang sama pula ketika seorang wartawan/jurnalis pulang ke kantor, masuk ruang redaksi dengan segepok data, hasil wawancara dan pikiran penuh enggel dan cerita peristiwa. Untuk mendapat informasi di sebuah wilayah konflik dan peperangan pun, jurnalis harus ikut masuk medan tempur. Kebanggaannya adalah dengan datang dan melihat langsung. Kalau perlu melaporkan pandangan matanya.

Setelah semua materi/bahan terkumpul, bahan siap diolah diurutkan, diverifikasi, disusun, verifikasi lagi, dirangkai lagi hingga menjadi berita] menjadi laporan eksklusif yang ditunggu-tunggu pembaca setia media tempatnya berkarya. Proses menjadi laporan tidak langsung. Mesti melewati berlapis-lapis pemeriksaan. Tujuan utamanya, akurasi dan kebenaran sesuai fakta.

Dan setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, metode yang sama menjadi sebuah standar operasi yang harus dijalankan. Setiap kali ada peristiwa, selalu ada langkah lanjut untuk mendalami sekaligus memperluas area pembahasan/laporan. Langkah lanjut yang paling penting dan mendasar adalah mencari kebenaran, memverifikasi, mencari akurasi. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan datang dan melihat.

Ajakan untuk kembali ke awal mula, alamiah, yang mendasar, atau asali [asli] dalam menyampaikan informasi/ berkomunikasi kemudian [ hari ini ] disampaikan Paus untuk kita, utamanya para jurnalis. Back to Basic ini merupakan standar operasi prosedur yang paling hakiki dalam dunia jurnalistik.

Sebuah prosedur dasar yang oleh Paus Fransiskus dilemparkan kembali untuk melawan fabrikasi informasi, narasi-narasi yang diproduksi dan cenderung tendensius. Metode ini akan membongkar rekayasa, menguliti kepalsuan dan harapannya meluaplah kebenaran-kebenaran hakiki.

Juga untuk mengingatkan  kita/Anda para jurnalis bahwa metode yang sama juga dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri dalam memberitakan kabar baik mulai dari Galilea sampai Yerusalem, yakni dengan mendatangi, melihat langsung serta terlibat dengan siapa saja apa adanya. (bdk. Pesan Paus dai Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke -55).

Dilupakan

Standar operasi paling dasar dengan datang dan melihat sendiri dalam dunia jurnalistik disebut terjun ke lapangan dan bertemu langsung narasumber. Cara lama yang masih sah dipakai hingga sekarang.

Sayang, metode ini sekarang seolah sudah sedikit terlupakan terutama oleh para jurnalis generasi digital. Narasumber sudah tidak lagi perlu ditemui. Cukup melihat di kanal Youtube, membaca komentarnya di media sosial seperti Twitter, Facebook, atau Instagram, para wartawan masa kini sudah merasa sah membuat satu laporan/ berita. Komentar cukup dikutip dari sosmed.

Alat komunikasi saat ini sudah sangat lengkap dengan fasilitas yang komplit dan mendukung gaya bertindak baru para jurnalis ini. Ambil contoh misalnya platform Zoom. Kita bisa menggunakan virtual background, membagi materi, berkomunikasi secara berkelompok atau satu lawan satu, dan masih banyak lagi fitur yang bisa dimaksimalkan penggunaannya. Apalagi sekarang ini sudah ada drone [pesawat tanpa awak] yang bisa dikendalikan dari jarak jauh. Memungkinkan pengambilan gambar tanpa perlu mendatangi lokasi.

Prosedur pengolahan informasi semakin singkat, apalagi bila sang komandan redaksi sudah mendesak-desak agar berita segera dinaikkan alias ditayangkan, semua prosedur untuk verifikasi bisa jadi bakal terlewatkan.

Info awal, yang minim akurasi dan kejelasan menjadi modal awal yang dilempar ke ruang publik. Lama-kelamaan ini menjadi kebiasaan bahkan prosedur bagi para jurnalis digital yang seolah dibenarkan dengan sendirinya demi mengejar tenggat yang hitungannya bukan lagi hari atau jam, melainkan detik.

Akurasi menjadi taruhan, informasi kecil-kecil tidak sempurna dan jauh dari keutuhan menjadi tanda reportase zaman digital. Informasi cenderung mendangkal, tidak dalam dan sekilas-sekilas. Dan tentu saja tidak jelas pada saat itu. Akibatnya, informasi bisa dicopot pasang, dipadu padan seperti sebuah baju, juga diputarbalikkan, ditambah-tambah, dikurangi bahkan diubah habis-habisan.

Teknologi komunikasi dan informasi yang semakin canggih makin memungkinkan rekayasa itu. Teks dan gambar [ foto ] bisa diubah-ubah, di-copy paste dan di-retouch kembali, menjadi berbeda dari yang aslinya. Gambar bergerak [ video ] pun juga sama. Suara bisa dihilangkan, diganti, mimik dan gerak bibir juga bisa direkayasa sedemikian rupa sehingga nyaris tidak terlihat bahwa hasil akhirnya jauh berbeda dengan produk asli/awal. Inilah zaman fabrikasi informasi, saat rekayasa informasi semakin kencang mengudara.

Maka, Paus jauh-jauh hari sudah mengingatkan hal itu kepada kita, bahkan sebelum hal ini menjadi tren di negara kita. Seolah-olah Bapa Suci sudah bisa melihat sesuatu yang belum terjadi. Dan memang terjadi  betul.

Fabrikasi narasi tendensius, perekayasaan informasi, pemalsuan kabar, dan tipu muslihat media merajalela. Yang ternyata tidak hanya dilakukan oleh masyarakat awam [jurnalis warga] yang tidak mengerti prosedur pemberitaan, melainkan secara sengaja juga dilakukan oleh media, jurnalis yang semestinya menghormati cara kerja dasar dalam memproduksi dan menayangkan informasi.

Jauh dari Jalanan

Jurnalis digital atau jurnalis masa kini menghadapi tantangan besar. Tuntutan untuk menjalankan prosedur yang masih berlaku di masa lalu dan belum ada perubahan kesepakatan berhadapan dengan tuntutan kecepatan pemberitaan [yang dihitung dengan ukuran detik] sekaligus tawaran-tawaran kemudahan teknologi yang sangat menggiurkan. Yang kebanyakan membuat jurnalis tidak perlu turun ke jalan.

Tak heran, jurnalis zaman now kalau tidak hati-hati bisa semakin jauh dari jalanan. Enak duduk di kursi memandang dunia dan berkomunikasi dengan siapa saja tanpa perlu pertemuan fisik.

Di satu sisi, peralatan-peralatan [ komunikasi ] dan sarana yang berlimpah ini sangat memungkinkan pertemuan dan akses informasi kemana-mana, di mana saja, dan dengan siapa saja. Namun, di sisi lain, ini semua memanjakan kita semua.

Ibarat kalau kita sering di laut, bisa lupa daratan. Demikian juga kalau sering berlayar di dunia virtual, kita juga bisa lupa dunia riil kita. Apalagi sekarang, segalanya bisa dijangkau dalam satu genggaman. Apa pun [seolah-olah] bisa diraih meski tidak kemana-mana. Kita bisa lupa, ada yang riil yang perlu kita temui dan lihat secara fisik.

Konsensus Baru? Mungkin Saja

Pandemi saat ini membuat pergerakan jurnalis semakin minim secara fisik. Bisa jadi, secara virtual sudah kemana-mana meski tidak bertemu fisik. Karena itu, bukan tidak mungkin standar operasi [para jurnalis] bisa bergeser. Kalau tadinya pertemuan fisik menjadi sesuatu yang mutlak, sekarang tidak perlu lagi. Siapa tahu, di masa depan ada konsensus baru tentang hal ini.

Namun tentu saja sensasi dan nikmat pertemuan [fisik] berbeda rasanya dengan nikmat [pertemuan] virtual yang sedang tren saat ini.  Tak heran, sekali lagi, Bapa Suci mengajak kita semua [khususnya jurnalis] kembali ke dasar.

“Dalam komunikasi, tidak ada yang bisa menggantikan metode melihat secara langsung. Beberapa hal hanya dapat dipelajari dengan mengalami. Tidak dikomunikasikan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan mata, nada suara, dan gerakan,”kata Paus Fransiskus  dalam pesannya.

Paus bahkan menegaskan, kata-kata hanya efektif jika Anda melihat. Juga jika terlibat dalam pengalaman dan dialog. “Karena itu datang dan lihatlah. Ini sungguh langkah yang sangat mendasar,” tegas Paus.